Rumput Sebelah Lebih Hijau

Ketemu teman lama bisa jadi hal yang menyenangkan, bisa juga tidak.

Secara nggak sengaja saya ketemu seorang teman kuliah di sebuah mall. Saya ingat dia itu dulu teman yang nyentrik. Badannya jangkung dan kurus, suka pakai jeans belel dan t-shirt yang mungkin jarang dicuci, dan rambut panjang ikalnya kerap acak-acakan.

Saat ketemu lagi, penampilannya bikin pangling. Badannya tambah jangkung tapi tidak kurus. Atletis malah. Rupanya dia memang rajin membentuk otot-ototnya di gym. Pakaiannya bermerek, dan rambutnya pendek berponi seperti aktor Korea. Overall, he is well-groomed lah.

Rupanya dia baru kembali dari Eropa, menggarap sebuah film dokumenter. Saya nggak menyangka setelah lulus kuliah arsitektur, dia mengambil kuliah perfilman di negara Belanda. Dan setelahnya, dia menetap di Amsterdam dan hanya pulang ke Indonesia sesekali.

Dia mentraktir saya minum kopi. Karena saya memang sedang luang, jadilah kami menghabiskan hampir dua jam mengobrol. Banyak cerita seru tentunya, tentang kehidupannya di Belanda, tentang pengalaman kerjanya, tentang perjalanan ke negara-negara asing, dan banyak lagi.

Dia terus bercerita dengan semangat. Awalnya saya menikmati kisah-kisahnya, tapi kemudian perlahan-lahan perasaan sebal muncul di hati. Sebab dia bisa punya pengalaman seseru itu, sementara saya enggak. I really envy him.

Barangkali memang bawaan lahir kalau saya suka sirik sama keberhasilan orang lain, sebab bukan sekali itu aja saya punya perasaan sebal ketika teman-teman bercerita tentang dirinya.

Saya jadi ingat dua teman lain. Yang satu kerja di sebuah perusahaan minyak, dan saat ini ditempatkan di Houston, Amerika. Tiap kali dia bolak-balik ke luar negeri; Jerman, Inggris, Bangkok, Tibet, Selandia Baru, dan entah apa lagi. Then, I envy her.

Teman satu lagi, baru saja menyelesaikan pendidikan di London atas beasiswa dari British Council, dan terakhir saya dengar dia kerja sebagai koresponden The National Geographic. Saya sebal sekali waktu dia memperlihatkan foto-foto perjalannya di London, Perancis, Monaco, dan entah mana lagi. Then I envy her.

Setiap kali rasa iri mulai muncul, saya selalu menghibur diri dengan mencari-cari kambing hitam. Saya berpikir mereka bisa sebegitu hebat karena sampai saat ini mereka masih lajang, jadi lebih bebas saat memutusukan keinginan-keinginanya. Tentu saja pemikiran saya salah, sebab sekali lagi saya cuma iri, dan orang iri nggak bisa berpikir jernih.

I am a housewife and a fulltime mom.

Dan rumput sebelah selalu lebih hijau. Di saat saya iri dengan kehidupan teman-teman yang masih lajang, mereka iri dengan kehidupan saya. Sebab saya punya seseorang yang selalu bisa diajak berbagi, juga tawa anak-anak yang memeriahkan hari.

Well, gimanapun juga hidup adalah serangkaian pilihan yang dibuat sendiri oleh yang menjalaninya, jadi gak boleh disesali …ngiri aja! 😀

Tongkat

Apa yang terlintas begitu mendengar kata Madura?

Pantai nan indah, tambak garam, sate, karapan sapi …dan tentu saja ramuan Madura! Yang terakhir itu adalah gara-gara kawan ibu saya yang baru saja kembali dari berlibur di pulau cantik itu.

Beliau mengoleh-olehi saya sebuah tongkat Madura. Katanya untuk menyenangkan suami. Melihat saya tak segera paham, kawan ibu itu menjelaskan begini; tongkat Madura adalah ramuan herbal yang dipampatkan sebesar cerutu, dipakai dengan memasukannya ke vagina sesaat sebelum bersanggama. Gunanya untuk menyerap cairan di sana sehingga vagina terasa kesat. Kalau kesat, pasti suami bahagia, katanya.

Mendadak saya jadi sebal sama kawan ibu itu. 😦

Pertama, bagaimana dia tahu suami saya tidak bahagia? Mereka kan belum pernah ketemu. Kedua, saya skeptis sebab – katakanlah saya sok logis – tapi bukankah lubrikasi pada vagina sangat diperlukan dalam persetubuhan? Ketiga, tanpa lubrikasi pastilah hubungan seks terasa begitu menyakitkan, lalu bagaimana saya bersenang-senang?

Kenikmatan seks lebih sulit didapat oleh perempuan sehingga dibutuhkan peralatan tambahan selain penis sungguhan. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan data sederhana yang saya kumpulkan ketika mengetik kata sex toys pada mesin pencari. Menarik bahwa separuh atau lebih piranti seks yang ditawarkan adalah beragam  vibrator untuk wanita. Sementara Viagra, krim untuk mempertahankan ereksi, pompa untuk memperbesar penis, dan boneka untuk masturbasi berada di urutan berikutnya.

Ini artinya, konsumen terbanyak situs-situs semacam itu adalah cewek. Kesimpulannya, dalam hal seks, perempuan lebih butuh bersenang-senang dibandingkan pria.

Cuma barangkali saya memang sok feminis. Buat saya tongkat madura nggak berarti apapun selain menguatkan mitos kejantanan pada simbol phallus ini.

Btw, saya masih menyimpan oleh-oleh kawan ibu saya itu. Ada yang mau?

Tuhan Itu Jahat

Sebab Tuhan suka menghukum umatnya.

Begitulah pesan yang saya tangkap dari segala macam sinetron (yang seharusnya) ber-genre religius. Mereka yang nggak mau mengikuti jalan Tuhan akan mati dengan mengerikan. Lebih mengerikan lagi, sebelum mati tubuhnya akan dipenuhi belatung atau tiba-tiba dipenuhi bisul bernanah berbau busuk. Tak jarang digambarkan lidahnya terjulur tanpa bisa kembali lagi atau menjadi mayat kering tanpa pernah benar-benar mati. Saya jadi bingung, apa bedanya azab Tuhan dengan guna-guna istri muda?

Hal serupa juga umum muncul pada saat bencana alam terjadi. Kalimat populer yang kerap diucapkan adalah “Tuhan sedang murka,” Buat saya kalimat itu menguatkan kesan bahwa Tuhan memang jahat banget! Lalu apa kabar dengan hal yang selalu diulang-ulang dalam doa? Yaitu bahwa Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang?

Saya cuma berharap bahwa orang-orang (kayak saya yang nilai agamanya payah) nggak malas lagi mencintai Tuhan. Sebab Dia gak jahat. Dia gak pernah mengguna-guna umatnya. Dia juga gak mudah murka seperti perkiraan kita. Justru sebaliknya, Dia selalu membantu umatNya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Seperti Darth Vader, kita cenderung berpaling ke sisi gelap yang memang terlihat lebih menarik.

Dan bukankah hidup jadi lebih mudah kalau kita mengerjakan segala sesuatu karena mencintaiNya ketimbang karena membenciNya atas segala hukuman versi sinetron itu?

Cokelat

Saya nggak suka cokelat.

Dan, saya sudah hafal ekspresi setiap orang ketika saya mengatakannya. Sebagian orang menganggap saya bercanda, sebagian lagi mengira saya berbohong, dan sisanya menganggap saya gila.

Well, it’s not that I hate chocolate, I just don’t like it. Saya nggak suka rasanya, sesederhana itu alasannya. Jika harus, saya mau saja makan cokelat, sebab tidak ada alergi. Kalau ada pilihan, saya lebih suka menolaknya.

Tentu, selalu menjadi situasi yang awkward ketika saya menolak tawaran cokelat. Biasanya dari mereka yang belum mengenal saya. Terkadang ada keadaan di mana saya harus menelan potongan praline sambil berakting menyukainya, demi sopan santun. Setelahnya saya terpaksa menegak setengah liter air untuk menghilangkan rasa tak enak di belakang lidah.

Saya tak ingat sejak kapan saya tak suka cokelat. Di masa sekolah dasar, saya sering jajan wafer cokelat bergambar Superman, atau cokelat berbalut kertas emas mirip koin. Saya juga tak menolak minum susu cokelat (meski lebih memilih susu putih) atau kue serta penganan lain yang berbahan cokelat.

Semasa mengajar BIPA, tentu saya (dan juga para pengajar lain) sering mendapat oleh-oleh cokelat dari murid-murid. Cokelat dari Belgia atau Perancis dapat membuat mata membelalak, dan liur menetes. Begitu juga cokelat Cadbury. Meski di Indonesia juga ada, tapi kata rekan-rekan pengajar, Cadbury dari Australia atau Selandia Baru jauh lebih enak. “Barangkali karena tak ada label ‘halal’, jadi lebih enak” canda seorang rekan kala itu.

Cokelat konon ditemukan sekitar 4000 tahun lalu oleh bangsa Indian Olmec. Peradaban yang terletak di teluk Meksiko ini menamakan tanaman coklat sebagai Kakawa. Mungkin dari sinilah asal kata kokoa. Orang-orang Olmec membudidayakan pohon cokelat untuk kemudian diolah sebagai minuman. Menariknya, minuman tersebut menjadi bergengsi sebab hanya bangsawan yang mengonsumsinya. Minuman paling keren saat itu menjadi begitu populer di antara bangsa-bangsa Indian lain.

Tanaman cokelat kemudian mulai dikenal di Eropa setelah Spanyol menaklukan suku Indian Aztec dan Maya serta peradaban-peradaban besar lain di bagian Selatan benua Amerika. Sejak itu cokelat berkelana ke Asia dan (kembali ke) Amerika. Ia lantas menjadi industri setelah pabrik-pabrik cokelat mengembangkan teknologi dan peralatan.

Di Indonesia, meski cokelat gambar ayam jago lebih dulu didistribusi, Silver Queen dianggap merek cokelat pertama karya industri lokal. Padahal sama-sama diproduksi PT. Ceres. Harga Silver Queen termasuk murah jika dibandingkan merek impor semacam M&M, Lotte, Kit-Kat, Cadburry, dan Toblerone. Buat yang uang jajannya minimal kayak saya, membeli cokelat dengan gambar ayam tentu lebih hemat.

Celakanya, cokelat gambar ayam jago itu benar-benar tidak enak di lidah saya. Ia juga membuat panas tenggorokan. Saya tak suka aftertaste cokelat ayam. Barangkali itu juga awal mula saya menganggap cokelat tak enak. Entahlah.

Lantas, saya melihat betapa kapitalisme memanfaatkan kesukaan orang akan cokelat. Dibikinnya opini bahwa pernyataan cinta identik dengan cokelat. Disuruhnya generasi muda membeli cokelat mahal untuk dihadiahkan pada kekasih atau gebetan. Jika ini tak berhasil, masih ada alasan cokelat sebagai comfort food. Jika kamu stress, patah hati, atau nggak mood, maka makanlah cokelat dan semua akan baik-baik saja. Begitu kira-kira pemikiran skeptis saya.

Sekali lagi, saya tak benci cokelat. Hanya tak suka rasanya.

Ada waktu di mana saya harus berdamai dengan cokelat. Misalnya ketika beberapa tahun lalu saya berulang tahun, beberapa teman membelikan Black Forrest Tart ukuran besar sebagai surprise. Jika saya bilang tak suka cokelat, mereka tentu akan kecewa.

Tak suka cokelat bukan perkara besar. Setiap orang butuh untuk tidak menyukai sesuatu. Mengatakan tak doyan cokelat memang seringnya mencitpakan situasi yang kikuk, tapi saya survive kok tanpa makan cokelat.

G-String (Part 2)

Setelah pernah ndeso sewaktu menemukan g-string buat laki-laki di sebuah mall (kisahnya bisa baca di sini), kali ini saya begitu norak saat melihatnya dikenakan seseorang.

Bermula saat liburan. Pagi itu saya berencana berenang di hotel tempat saya menginap. Memang ada tempat mandi di sebelah ruang ganti pakaian, namun di dekat kolam juga tersedia pancuran buat yang ingin membilas diri di sana.

Lalu datanglah cowok brondong itu. Ia keluar dari kolam dan menuju pancuran untuk mandi. Tentu bukan hal aneh. Hanya saja, saat dia tengah mandi sambil memutar-mutar tubuhnya di bawah shower, saya melihat sesuatu yang tak biasa. Bagian belakang celana dalam yang harusnya menutupi bokong itu terbuka lebar. Wowww!!!

Katakanlah saya ndeso karena awalnya saya pikir itu model swempak teranyar. Ternyata ia memakai g-string. Meski tidak sama persis bentuknya, konsep dasar modelnya sama dengan g-string buat cewek. Duh gusti, betapa saya tidak tahu perkembangan mode terkini sama sekali.

Barangkali begini akibatnya kalau sok alim. Selama ini, kalau membelikan suami, tahunya cuma cap buaya mangap atau yang mengklaim anti selip. Celana dalam merek itu bentuknya begitu-begitu saja, paling beda di warna, bahan dan motifnya. Itupun belinya di Indomaret.

Mungkin sesekali saya musti belanja celana dalam di butik khusus, biar tahu model cutting edge ~ seperti cowok metroseksual yang sedang mandi di pancuran itu.

Dan Tuhan, maafkan saya karena menikmati pemandangan bagus dari bokong kencang yang menyembul dari g-stringnya.

Doa Bunda

Apakah seorang ibu pasti mendoakan hal-hal baik untuk anaknya?

Saya senang jalan pagi di hari Sabtu atau Minggu.

Rute yang saya ambil biasanya kampung-kampung seputar kompleks perumahan saya. Melewati jalan-jalan sepi nan tentram, seringnya saya bertemu dengan bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi. Mereka mengobrol sambil menghabiskan rokok klobot, terkadang juga sambil main catur. Saya suka mengamati suasana begitu.

Pagi itu, warung kopi sepi. Hanya ada dua lelaki sedang menyeruput kopi ditemani singkong goreng. Ibu pemilik warung duduk di bangku menunggui anaknya yang sedang bermain dengan beberapa bocah lain di depan warung. Saya menangguk dan tersenyum, mencoba menyapanya, namun rupanya ia sedang memperhatikan sesuatu hingga tak melihat sapaan saya.

Tiba-tiba, ibu itu berujar, “Ampun curang, Nduk, Ora ilok.” ~ Jangan curang, Nak. Itu tidak baik.

Saya tak tahu permainan apa yang bocah-bocah itu mainkan, atau bagaimana anaknya bisa sampai bermain curang. Ucapan ibu itu lebih menarik perhatian saya, dan terus terngiang-ngiang dalam telinga saat saya sampai di rumah.

Tak ada seorang ibu pun yang ingin anaknya berlaku curang, bahkan dalam permainan sepele sekalipun. Ibu pemilik warung, seperti ibu-ibu lainnya, sudah pasti mendoakan kebaikan bagi buah hatinya. Entah dalam shalat atau sembahyang, seorang ibu pasti menitipkan nama anaknya pada malaikat. Meminta pesuruh Tuhan untuk menyampaikan harapan baik agar anaknya menjadi orang beriman, berbudi luhur, dan berguna bagi sesama.

Belum pernah saya dengar ada ibu yang mendoakan hal buruk ~ kecuali ibunya Malin Kundang yang memohon anak durhakanya menjadi batu.

Tetapi mungkinkah semua doa ibu tersebut mulia?  Lantas bagaimana dengan para koruptor? Apa iya doa ibunya yang salah sehingga mereka tega mencuri duit rakyat? Bukankah konon di neraka kelak koruptor akan makan bangkai?

Malamnya, saya menceritakan pemikiran itu kepada suami. Seperti biasa, ia akan menjawab kegelisahan saya dengan kalem. “Sudahlah, biarin aja. Neraka kan juga perlu bahan bakar supaya tetap abadi.” katanya sambil mengisik-isik kepala saya.

Saya ingin mendebat, tapi isik-isikannya membuat saya ngantuk. Sesaat kemudian, saya sudah lelap.

3G  (G-string, G-male dan G-spot)

Mungkin saya ketinggalan jaman, tapi beneran deh, saya baru tau kalau ada g-string buat cowok. Waktu jalan-jalan di sebuah mall, nggak sengaja saya lihat manekin setengah badan ke bawah yang sedang dipakaikan g-string.

Awalnya saya pikir itu g-string untuk cewek yang sama sekali gak seksi sebelum akhirnya saya sadar manekin itu ada di tengah tumpukan underpants cowok yang lagi diskon. Melihat pantat mulus sang manekin yang dihiasi segaris tali tipis di selangkangan, mau gak mau saya membayangkan lycra hitam itu dipakai oleh teman-teman cowok saya. Eeeuuh!

Saya dulu pernah membeli g-string, hanya karena penasaran sebab model di majalah jadi kelihatan begitu seksi dengannya. Yang saya dapat cuma kecewa karena saya membelinya tanpa mempertimbangkan bentuk perut dan bokong saya yang beda jauh dengan sang model. Selain itu rasa risih di selangkangan membuat cara jalan dan duduk saya jadi aneh. Jadi, g-string itu hanya saya pakai untuk kesempatan tertentu saja. You know what I mean! 😉

Anyway! G-string buat cowok itu bener-bener bikin saya penasaran. Saya pingin tahu apakah segaris lycra tipis di selangkangan itu akan mengganggu  atau malah merangsang si pemakai? Sebab g-spot pria berada di sekitar daerah itu.

Menurut buku “Total Sex: Complete Guide to Everything Men Need to Know and Want to Know About Sex,” g-spot pria atau sering disebut g-male terletak pada kelenjar prostatnya. Menemukannya sebenarnya cukup ribet dan kurang higenis, karena hanya dapat dilakukan dengan memasukkan jari tangan ke sekitar lubang anus untuk menemukan titik berukuran sebiji kenari. Namun sekali ditemukan, titik tersebut akan menimbulkan efek rangsang yang begitu hebat.

Saya jadi inget adegan dalam film American Pie 2. Seorang dokter memeriksa bagian anal pasien dengan cara seperti di atas. Yang terjadi berikutnya adalah pasien yang awalnya ketakutan divonis kanker prostat malah menjadi begitu terangsang ~ dan sesudahnya tak mampu lagi orgasme dengan cara biasa.