Bukan Traveler

Setiap orang suka traveling, kan?

Saya sudah berkenalan dengan konsep backpacking, dan juga para backpacker dunia jauh sebelum Trinity mempopulerkan kata itu dalam buku-bukunya. Sebagai pengajar BIPA, banyak siswa saya yang sudah bepergian ke berbagai pelosok dunia sebagai backpacker. Bagi muda-mudi di banyak negara maju, pernah traveling ke banyak negara, apalagi developing countries, bisa mereka masukkan ke dalam portfolio dan akan dipertimbangkan ketika melamar pekerjaan atau mengajukan beasiswa.

Hingga sekarang pun, saya dikelilingi orang-orang yang gemar dan sudah traveling ke mana-mana. Sahabat saya, Bejan, misalnya sudah bepergian ke Jepang, Thailand, Iran, Afganistan, Turki, dan Peru. Dia tinggal selama tujuh tahun di Ottawa, Kanada, lantas bekerja sebagai Chef di sebuah resor di Raja Ampat, dan setahun belakangan, dia tengah berada di Perancis untuk merambah karier sebagai wine tester. Oya, dia juga pernah mengunjungi ujung Utara dunia (saya lupa nama pulaunya) hanya untuk melihat langsung Aurora Borealis.

Lain lagi kisah si cantik Misha Johanna, yang sudah menjejakkan kaki di 31 negara di dunia, dan sekarang sedang menikmati suasana musim panas di Lithuania. Mungkin kamu pernah baca tulisan-tulisan blog Pumpkin Furball? Nah, itu kawan saya semasa kerja dulu. Atau mungkin kamu pernah baca blog Anggia Bonyta? Dia seorang kawan yang memiliki prinsip bahwa traveling itu seharusnya sekali-sekali saja. Sekali di bulan Februari, sekali di bulan Maret, sekali di bulan April, dan seterusnya 😀

Sebetulnya, banyak banget kawan-kawan yang menjadikan traveling sebagai bagian dari tujuan hidup, tapi saya akan ceritakan tentang mereka kali lain. sebab kali ini saya ingin menceritakan kenapa, meski dikelilingi para pecinta traveling, saya nggak tertarik dengan kegiatan satu ini. Lebih tepatnya, nggak pernah punya hasrat untuk traveling.

Saya tahu, saya bukan satu-satunya non-penggemar traveling. Ada orang-orang yang memang tak mampu secara ekonomi untuk bepergian, atau malah karena takut naik pesawat. Saya juga termasuk yang penakut sih, tapi ini bukan alasan utama. Saya hanya tak tertarik dengan traveling. Mungkin suatu hari saya akan melakukannya, mungkin juga tidak. Saya punya angan mengunjungi ke Santorini, Tibet, Barcelona dan Jaipur suatu hari, tapi saya tak terlalu peduli jika tak pernah terlaksana. I just don’t care, and that’s should be okay.

Tapi, kamu harus lihat bagaimana tatapan orang-orang jika saya mengatakan bahwa saya tak tertarik pada traveling. Mereka memandang saya seolah-olah saya neadetral yang tak pernah meninggalkan gua, lalu membatin, “Pasti membosankan sekali hidup si Astrid ini.”  😀

Hmmm, gimana ya. Saya sudah mengelilingi banyak kota di Sulawesi Selatan, tinggal beberapa hari di desa kecil tanpa listrik dan fasilitas MCK di tengah pengunungan di Tana Toraja. Saya puluhan kali mengunjungi Bali dan Lombok, baik untuk main, mengunjungi keluarga, maupun berwisata. Saya sudah menjelajah Palembang dan Lampung karena setengah keluarga besar saya berasal dari sana. Tentu saja, beberapa kota di pulau Jawa juga pernah. Barangkali, yang belum pernah saya kunjungi hanya pulau Kalimantan, Maluku dan Papua. Dari semua itu, saya belajar satu hal; saya tak pernah merasa nyaman berlama-lama di jalanan.

Beberapa perjalanan yang saya lakukan membutuhkan waktu lama, kadang harus berganti-ganti kendaraan. Pernah harus ganti tiga bus lalu pindah ke kapal ferry dan kemudian naik taksi, kesasar di daerah yang orang-orangnya bicara dengan dialek khas sehingga saya kesulitan memahami ucapan mereka. Awalnya, situasi ini menyenangkan dan menantang, lama kelamaan jadi melelahkan. Ujung-ujungnya, pilihan jatuh pada pesawat, kereta api atau bus eskekutif yang tiketnya lebih mahal. Belum lagi, saya termasuk orang yang tak tahan lapar. Tak cukup makan selama perjalanan membuat saya grumpy dan mengeluh terus. Menyebalkan ya.

Selain tak suka menghabiskan waktu lama di perjalanan, saya juga tak suka berada jauh dari keluarga. Bahkan jika pergi dengan suami dan anak-anakpun, saya mudah kangen pada ibu, adik-adik dan keponakan, sepupu, mertua, para ipar. Buat saya, menghabiskan waktu bersama keluarga lebih bermakna ketimbang mencoba berkenalan dengan orang asing di tempat yang tak saya kenal. Barangkali, pada dasarnya saya memang introvert yang malas berada dalam kerumunan orang-orang baru. Selain itu, berada di tempat asing, mau tak mau mengharuskan saya menceritakan tentang diri sendiri. Sesuatu yang saya coba hindari, dan saya juga tak suka ditanya-tanya soal pribadi. Padahal, di banyak tempat hal ini menunjukkan sopan santun dan keramah tamahan. Sayanya aja yang kurang cocok.

Jadi, kalau waktunya tiba, saya memilih untuk liburan di tempat yang nyaman, dan tidak ada orang yang tanya-tanya. Dana liburan biasanya saya gunakan untuk menginap di hotel bagus yang berjarak paling jauh dua tiga jam naik mobil dari rumah. Itu menyenangkan buat saya, dan juga keluarga.

Ada teman yang berprinsip bahwa uang bisa dicari lagi, tapi waktu tidak bisa terulang. Mereka bekerja keras dan menabung untuk traveling, dan menjadikannya kemewahan. Hadiah dari kerja keras mereka, dan saya sangat menghargai prinsip itu. Hanya saja, kemewahan buat saya memiliki arti berbeda. Hasil kerja selama beberapa bulan akan menjadi kemewahan ketika dimanifestasi ke dalam rumah. Iya, saya suka mendekor rumah, dan berinvestasi untuk menjadikannya indah dan super nyaman.

Orang rumahan. Barangkali itu alasan kenapa saya tak tertarik traveling. Buat saya, berada di rumah (kalau perlu tak usah keluar selama berhari-hari) menjadi sebuah kemewahan, sesuatu yang saya inginkan di akhir hari yang melelahkan, duduk di sofa nyaman, membaca buku, mendengarkan musik, menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga, atau bahkan tidak melakukan apapun sepanjang hari.

Bagaimana dengan wawasan luas yang hanya bisa didapatkan ketika kita traveling? Well, saya nggak peduli dengan hal itu. Saya masih yakin bahwa wawasan dan perspektif saya cukup luas, pikiran saya juga cukup terbuka. Lagipula, toh saya tetap bisa menikmati foto-foto traveling menakjubkan dari perjalanan teman-teman.

Tapi kan, nggak sama rasanya? Well, I don’t care about that either. Traveling selalu berada di urutan terbawah daftar prioritas hidup saya. Dan saya tidak mengatakan bahwa traveling itu kegiatan sia-sia. Traveling itu bagus … untuk orang lain.

Lunar Eclipse

Hari Jumat, 27 Juli lalu, hampir setengah penduduk bumi, salah satunya saya, sangat excited dengan fenomena gerhana bulan total, yang bersamaan waktu dengan opisisi planet Mars. Gila! Indah banget! Saya bela-belain nunggu sampai dini hari cuma buat mengaguminya. Memang tak sampai selesai karena keburu ngantuk, tapi saya kemudian saya puas menonton tayang ulangnya di channel Space & Universe.

Entah kenapa semua hal yang berhubungan dengan alam semesta selalu membuat saya bergairah. Dari kecil saya senang mengamati bintang-bintang di langit, dan ketika kemudian mengetahui bahwa bintang-bintang itu sebetulnya adalah matahari, saya menjadi begitu takjub. Bayangkan, jika matahari kita memiliki sembilan planet lengkap dengan satelitnya masing-masing, maka berapa juta miliar planet yang mengelilingi trilyunan bintang-yang-sebetulnya-matahari-itu. Ah, membayangkan semua itu saat menulis ini saja bisa membuat saya tersenyum lebar saking takjubnya.

Saya hobi membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan astronomi, juga mengikuti komunitas-komunitas online-nya. Mengunjungi situs NASA dan sejenisnya menjadi sebuah kebiasaan, terutama jika ada fenomena alam yang akan terjadi. Misalnya, ya gerhana bulan total kemarin itu.

Bulan memang sebuah misteri. Belum ada manusia bumi yang pernah bisa melihat bagian belakangnya. Barangkali itu alasan begitu banyak dongeng tentang bulan, baik di negeri sendiri maupun di negara orang. Lucunya, bulan itu benar-benar memengaruhi mental dan kekuatan fisik saya. Ini saya sadari ketika beberapa kali fenomena gerhana bulan, atau supermoon terjadi. Saya lebih mudah tersinggung, gampang menangis, cepat lelah, dan sakit di beberapa bagian tubuh.

Dulu saya kira hanya gejala PMS biasa, tapi bahkan saat bukan waktunya pun, asal bersamaan dengan fenomena bulan (purnama, gerhana, supermoon) saya pasti jadi jauh lebih sensitif. Dari beberapa bacaan, saya kemudian mulai paham bahwa memang bulan memiliki kekuatan besar yang memengaruhi, tidak hanya pasang surut laut, tapi juga tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan. Pemahaman ini barangkali yang dulu mendorong Leitch Ritchie untuk melahirkan “The Man-Wolf”. Sebuah kisah fiksi tentang manusia serigala yang terbit tahun 1831.

Meski badan rasanya remuk dan jiwa seperti runtuh, saya tetap cinta fenomena bulan, dan juga semua fenomena alam semesta. Saya selalu menunggu-nunggu kapan fenomena berikutnya tiba. Meski tak selalu bisa menikmatinya langsung, mengikuti beritanya saja sudah membuat saya senang. Bedanya adalah, jika dulu saya dengan noraknya membagikan tautan berita, atau sibuk membuat foto-foto untuk sekadar memajangnya di media sosial agar semua kawan tahu, sekarang saya lebih relaks. Saya menikmati gerhana bulan tanpa melakukan apapun. Tidak ada kamera atau ponsel di dekat saya. Hanya berbaring telentang, mengintip lewat teropong, menikmati kesunyian, menunggu … lantas buru-buru masuk rumah kalau sudah merasa mulai masuk angin 😀

Pada (Bekas) Kota Sepeda

Barusan saya membaca artikel tentang gaya hidup orang-orang di Amsterdam. Mereka umumnya lebih memilih naik sepeda ketimbang kendaraan bermotor. Mau gak mau saya jadi teringat masa orang bersepeda di Jogja masih jamak. Berbeda dengan tren bike to work, bersepeda ke tempat kerja di Jogja dulu merupakan kebutuhan, bukan untuk alasan kesehatan apalagi gaya-gayaan, sebab kendaraan bermesin masih mahal.

Sekitar tahun 70an sampai awal tahun 90an, adalah biasa melihat rombongan sepeda onthel yang dinaiki anak sekolah, mahasiswa, pegawai negeri, karyawan toko, simbok sayur, hingga buruh pabrik di hampir setiap jalanan di Jogja. Kala itu,  menyusuri jalan lingkar pada pagi sebelum pukul tujuh pagi, membuat kita bisa melihat ratusan bikers to work tersebut memenuhi jalur lambat dan berebut jalan dengan kendaraan bermotor.

Para pemakai motor dan mobil sudah maklum dan tak perlu mengklakson untuk minta jalan, sebab pengendara sepeda itu gak akan minggir. Sekali lagi itu bukan gagah-gagahan. Mereka hanya tak punya kesadaraan bahwa motor dan mobil lebih besar ukurannya sehingga perlu ruang lebih banyak di jalan.

Sekarang pemandangan begitu cuma bisa dilihat di beberapa tempat, seperti kampus atau pada acara car free day di kawasan nol kilometer tiap hari Minggu. Para pengendara sepeda kayuh sekarang memilih untuk naik motor matic, Pergeseran itu terjadi demi efisiensi atau bahkan gengsi. Simbok sayur gak lagi mau bersepeda sebab bebek matic lebih cepat dan muat banyak. Ia bisa mengantar sayur dan anak ke sekolah sekaligus.

Begitupun para mahasiswa dan pegawai. Maka, meskipun harga bensin terus naik, pit montor (sepeda motor; jawa) tetap menjadi pilihan. Dan ini tidak berlaku hanya untuk orang dewasa, anak SD pun bersliweran ke sana kemari naik motor tanpa helm pengaman dan SIM. Segala macam protes saya tentang anak kecil naik motor seolah memantul ke luar angkasa. Tak pernah didengar, sebab orangtuanya mengira membolehkan anak di bawah umur berkendara di jalan raya adalah bentuk dari kasih sayang.

Begitulah, Jogja kini telah menjadi bekas kota sepeda. Motor dan mobil memenuhi jalan-jalan yang di beberapa kawasan tertentu, lebarnya tak lebih dari dua buah andong yang bersisian. Namun, banyak juga yang menyetir kendaraan bermotor seperti mengendarai sepeda. Membayangkan mobil juga seperti sepeda. Buat sepeda, jalur kanan dan kiri gak banyak bedanya.

Pernah suatu kali saya menemui seorang kenalan di daerah Tirtodipuran. Memasuki gang menuju rumahnya, saya susah payah membelokkan mobil saya yang tanpa power steering. Gang itu amat sempit, hanya muat satu mobil tanpa sisa ruang di kanan dan kirinya, bahkan buat pejalan kaki. Saya harus maju mundur beberapa kali agar bisa masuk.

Ironisnya, begitu hidung mobil masuk ke dalam gang, dari ujung lain muncul motor bebek matic yang dinaiki seorang ibu dengan balitanya. Ia tak kelihatan ingin repot-repot bersimpati terhadap kesulitan saya, dan terus maju untuk “memaksa” mobil saya agar mundur demi dirinya. Oh, saya kira ibu itu tidak egois. Sama seperti ratusan pengguna sepeda yang memenuhi jalan lingkar dahulu , ibu itu cuma tidak mengerti bahwa menyetir mobil begitu berbeda dengan mengendarai sepeda atau motor matic, apalagi supaya bisa masuk gang.

Kembali ke tren bersepeda, saya pernah mencobanya beberapa waktu lalu. Alasannya pingin sehat secara efisien. Benar bahwa saya sudah mencoba olah raga lain. Saya rutin jogging, berenang dan yoga (tapi segan pergi ke pusat kebugaran, sebab di sana adalah kumpulan pria berbadan bagus, terlalu banyak gangguan! 😀 ) cuma saya tetap kepingin bersepeda. Alasannya biar seperti teman-teman yang terlihat keren saat memamerkan momen-momen bersepeda di IG story mereka.

Namun kegiatan itu hanya bertahan dua bulan. Sebab alih-alih sehat, saya malah diasapi dan diteriaki kenek angkot karena dianggap menghalangi jalan.

Rumput Sebelah Lebih Hijau

Ketemu teman lama bisa jadi hal yang menyenangkan, bisa juga tidak.

Secara nggak sengaja saya ketemu seorang teman kuliah di sebuah mall. Saya ingat dia itu dulu teman yang nyentrik. Badannya jangkung dan kurus, suka pakai jeans belel dan t-shirt yang mungkin jarang dicuci, dan rambut panjang ikalnya kerap acak-acakan.

Saat ketemu lagi, penampilannya bikin pangling. Badannya tambah jangkung tapi tidak kurus. Atletis malah. Rupanya dia memang rajin membentuk otot-ototnya di gym. Pakaiannya bermerek, dan rambutnya pendek berponi seperti aktor Korea. Overall, he is well-groomed lah.

Rupanya dia baru kembali dari Eropa, menggarap sebuah film dokumenter. Saya nggak menyangka setelah lulus kuliah arsitektur, dia mengambil kuliah perfilman di negara Belanda. Dan setelahnya, dia menetap di Amsterdam dan hanya pulang ke Indonesia sesekali.

Dia mentraktir saya minum kopi. Karena saya memang sedang luang, jadilah kami menghabiskan hampir dua jam mengobrol. Banyak cerita seru tentunya, tentang kehidupannya di Belanda, tentang pengalaman kerjanya, tentang perjalanan ke negara-negara asing, dan banyak lagi.

Dia terus bercerita dengan semangat. Awalnya saya menikmati kisah-kisahnya, tapi kemudian perlahan-lahan perasaan sebal muncul di hati. Sebab dia bisa punya pengalaman seseru itu, sementara saya enggak. I really envy him.

Barangkali memang bawaan lahir kalau saya suka sirik sama keberhasilan orang lain, sebab bukan sekali itu aja saya punya perasaan sebal ketika teman-teman bercerita tentang dirinya.

Saya jadi ingat dua teman lain. Yang satu kerja di sebuah perusahaan minyak, dan saat ini ditempatkan di Houston, Amerika. Tiap kali dia bolak-balik ke luar negeri; Jerman, Inggris, Bangkok, Tibet, Selandia Baru, dan entah apa lagi. Then, I envy her.

Teman satu lagi, baru saja menyelesaikan pendidikan di London atas beasiswa dari British Council, dan terakhir saya dengar dia kerja sebagai koresponden The National Geographic. Saya sebal sekali waktu dia memperlihatkan foto-foto perjalannya di London, Perancis, Monaco, dan entah mana lagi. Then I envy her.

Setiap kali rasa iri mulai muncul, saya selalu menghibur diri dengan mencari-cari kambing hitam. Saya berpikir mereka bisa sebegitu hebat karena sampai saat ini mereka masih lajang, jadi lebih bebas saat memutusukan keinginan-keinginanya. Tentu saja pemikiran saya salah, sebab sekali lagi saya cuma iri, dan orang iri nggak bisa berpikir jernih.

I am a housewife and a fulltime mom.

Dan rumput sebelah selalu lebih hijau. Di saat saya iri dengan kehidupan teman-teman yang masih lajang, mereka iri dengan kehidupan saya. Sebab saya punya seseorang yang selalu bisa diajak berbagi, juga tawa anak-anak yang memeriahkan hari.

Well, gimanapun juga hidup adalah serangkaian pilihan yang dibuat sendiri oleh yang menjalaninya, jadi gak boleh disesali …ngiri aja! 😀

Tongkat

Apa yang terlintas begitu mendengar kata Madura?

Pantai nan indah, tambak garam, sate, karapan sapi …dan tentu saja ramuan Madura! Yang terakhir itu adalah gara-gara kawan ibu saya yang baru saja kembali dari berlibur di pulau cantik itu.

Beliau mengoleh-olehi saya sebuah tongkat Madura. Katanya untuk menyenangkan suami. Melihat saya tak segera paham, kawan ibu itu menjelaskan begini; tongkat Madura adalah ramuan herbal yang dipampatkan sebesar cerutu, dipakai dengan memasukannya ke vagina sesaat sebelum bersanggama. Gunanya untuk menyerap cairan di sana sehingga vagina terasa kesat. Kalau kesat, pasti suami bahagia, katanya.

Mendadak saya jadi sebal sama kawan ibu itu. 😦

Pertama, bagaimana dia tahu suami saya tidak bahagia? Mereka kan belum pernah ketemu. Kedua, saya skeptis sebab – katakanlah saya sok logis – tapi bukankah lubrikasi pada vagina sangat diperlukan dalam persetubuhan? Ketiga, tanpa lubrikasi pastilah hubungan seks terasa begitu menyakitkan, lalu bagaimana saya bersenang-senang?

Kenikmatan seks lebih sulit didapat oleh perempuan sehingga dibutuhkan peralatan tambahan selain penis sungguhan. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan data sederhana yang saya kumpulkan ketika mengetik kata sex toys pada mesin pencari. Menarik bahwa separuh atau lebih piranti seks yang ditawarkan adalah beragam  vibrator untuk wanita. Sementara Viagra, krim untuk mempertahankan ereksi, pompa untuk memperbesar penis, dan boneka untuk masturbasi berada di urutan berikutnya.

Ini artinya, konsumen terbanyak situs-situs semacam itu adalah cewek. Kesimpulannya, dalam hal seks, perempuan lebih butuh bersenang-senang dibandingkan pria.

Cuma barangkali saya memang sok feminis. Buat saya tongkat madura nggak berarti apapun selain menguatkan mitos kejantanan pada simbol phallus ini.

Btw, saya masih menyimpan oleh-oleh kawan ibu saya itu. Ada yang mau?

Tuhan Itu Jahat

Sebab Tuhan suka menghukum umatnya.

Begitulah pesan yang saya tangkap dari segala macam sinetron (yang seharusnya) ber-genre religius. Mereka yang nggak mau mengikuti jalan Tuhan akan mati dengan mengerikan. Lebih mengerikan lagi, sebelum mati tubuhnya akan dipenuhi belatung atau tiba-tiba dipenuhi bisul bernanah berbau busuk. Tak jarang digambarkan lidahnya terjulur tanpa bisa kembali lagi atau menjadi mayat kering tanpa pernah benar-benar mati. Saya jadi bingung, apa bedanya azab Tuhan dengan guna-guna istri muda?

Hal serupa juga umum muncul pada saat bencana alam terjadi. Kalimat populer yang kerap diucapkan adalah “Tuhan sedang murka,” Buat saya kalimat itu menguatkan kesan bahwa Tuhan memang jahat banget! Lalu apa kabar dengan hal yang selalu diulang-ulang dalam doa? Yaitu bahwa Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang?

Saya cuma berharap bahwa orang-orang (kayak saya yang nilai agamanya payah) nggak malas lagi mencintai Tuhan. Sebab Dia gak jahat. Dia gak pernah mengguna-guna umatnya. Dia juga gak mudah murka seperti perkiraan kita. Justru sebaliknya, Dia selalu membantu umatNya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Seperti Darth Vader, kita cenderung berpaling ke sisi gelap yang memang terlihat lebih menarik.

Dan bukankah hidup jadi lebih mudah kalau kita mengerjakan segala sesuatu karena mencintaiNya ketimbang karena membenciNya atas segala hukuman versi sinetron itu?

Cokelat

Saya nggak suka cokelat.

Dan, saya sudah hafal ekspresi setiap orang ketika saya mengatakannya. Sebagian orang menganggap saya bercanda, sebagian lagi mengira saya berbohong, dan sisanya menganggap saya gila.

Well, it’s not that I hate chocolate, I just don’t like it. Saya nggak suka rasanya, sesederhana itu alasannya. Jika harus, saya mau saja makan cokelat, sebab tidak ada alergi. Kalau ada pilihan, saya lebih suka menolaknya.

Tentu, selalu menjadi situasi yang awkward ketika saya menolak tawaran cokelat. Biasanya dari mereka yang belum mengenal saya. Terkadang ada keadaan di mana saya harus menelan potongan praline sambil berakting menyukainya, demi sopan santun. Setelahnya saya terpaksa menegak setengah liter air untuk menghilangkan rasa tak enak di belakang lidah.

Saya tak ingat sejak kapan saya tak suka cokelat. Di masa sekolah dasar, saya sering jajan wafer cokelat bergambar Superman, atau cokelat berbalut kertas emas mirip koin. Saya juga tak menolak minum susu cokelat (meski lebih memilih susu putih) atau kue serta penganan lain yang berbahan cokelat.

Semasa mengajar BIPA, tentu saya (dan juga para pengajar lain) sering mendapat oleh-oleh cokelat dari murid-murid. Cokelat dari Belgia atau Perancis dapat membuat mata membelalak, dan liur menetes. Begitu juga cokelat Cadbury. Meski di Indonesia juga ada, tapi kata rekan-rekan pengajar, Cadbury dari Australia atau Selandia Baru jauh lebih enak. “Barangkali karena tak ada label ‘halal’, jadi lebih enak” canda seorang rekan kala itu.

Cokelat konon ditemukan sekitar 4000 tahun lalu oleh bangsa Indian Olmec. Peradaban yang terletak di teluk Meksiko ini menamakan tanaman coklat sebagai Kakawa. Mungkin dari sinilah asal kata kokoa. Orang-orang Olmec membudidayakan pohon cokelat untuk kemudian diolah sebagai minuman. Menariknya, minuman tersebut menjadi bergengsi sebab hanya bangsawan yang mengonsumsinya. Minuman paling keren saat itu menjadi begitu populer di antara bangsa-bangsa Indian lain.

Tanaman cokelat kemudian mulai dikenal di Eropa setelah Spanyol menaklukan suku Indian Aztec dan Maya serta peradaban-peradaban besar lain di bagian Selatan benua Amerika. Sejak itu cokelat berkelana ke Asia dan (kembali ke) Amerika. Ia lantas menjadi industri setelah pabrik-pabrik cokelat mengembangkan teknologi dan peralatan.

Di Indonesia, meski cokelat gambar ayam jago lebih dulu didistribusi, Silver Queen dianggap merek cokelat pertama karya industri lokal. Padahal sama-sama diproduksi PT. Ceres. Harga Silver Queen termasuk murah jika dibandingkan merek impor semacam M&M, Lotte, Kit-Kat, Cadburry, dan Toblerone. Buat yang uang jajannya minimal kayak saya, membeli cokelat dengan gambar ayam tentu lebih hemat.

Celakanya, cokelat gambar ayam jago itu benar-benar tidak enak di lidah saya. Ia juga membuat panas tenggorokan. Saya tak suka aftertaste cokelat ayam. Barangkali itu juga awal mula saya menganggap cokelat tak enak. Entahlah.

Lantas, saya melihat betapa kapitalisme memanfaatkan kesukaan orang akan cokelat. Dibikinnya opini bahwa pernyataan cinta identik dengan cokelat. Disuruhnya generasi muda membeli cokelat mahal untuk dihadiahkan pada kekasih atau gebetan. Jika ini tak berhasil, masih ada alasan cokelat sebagai comfort food. Jika kamu stress, patah hati, atau nggak mood, maka makanlah cokelat dan semua akan baik-baik saja. Begitu kira-kira pemikiran skeptis saya.

Sekali lagi, saya tak benci cokelat. Hanya tak suka rasanya.

Ada waktu di mana saya harus berdamai dengan cokelat. Misalnya ketika beberapa tahun lalu saya berulang tahun, beberapa teman membelikan Black Forrest Tart ukuran besar sebagai surprise. Jika saya bilang tak suka cokelat, mereka tentu akan kecewa.

Tak suka cokelat bukan perkara besar. Setiap orang butuh untuk tidak menyukai sesuatu. Mengatakan tak doyan cokelat memang seringnya mencitpakan situasi yang kikuk, tapi saya survive kok tanpa makan cokelat.