Trans Jogja

Akhirnya Jogja punya sistem transportasi bus cepat, murah dan ber-AC.

Bus bernama Trans Jogja ini mulai beroperasi beberapa hari lalu. Badan bus bercat hijau  dan kuning itu memang nggak sebesar Trans Jakarta, mungkin lebih mirip bus Patas tapi lumayanlah, sebab Jogja tak punya Patas. Bus bertingkat pun nggak ada. Bukan apa-apa tapi kabel-kabel listrik di kota ini terentang begitu rendah sehingga mustahil dilewati bus tingkat.

Sebenarnya saya belum tahu persis rute bus Trans Jogja namun kelihatannya hanya akan mengakomodasi jalan-jalan utama saja, sebab halte-haltenya tidak berada di jalan-jalan sekunder.

Yang bikin prihatin adalah bahwa sebelum premiere penggunaannya, halte-halte tersebut sudah dicoreti grafitti, dirusak jendela nakonya, bahkan konon sudah dikencingi. Oh, mungkin para pelakunya tak bermaksud vandal. Mereka hanya tidak busa membedakan halte bus dengan WC umum, dan mengira jendela nako itu milik bersama.

Susahnya, yang nggak melakukanlah yang melihat hasil akhirnya, dan lantas menjadi geram. Seandainya bisa bertemu pelakunya, mungkin ingin meneriaki, “Siapa yang memberi kalian hak merusak halte ini?”

Tapi, saya kira pertanyaan formalis macam itu bakal salah kaprah untuk Indonesia sebab mengandaikan negara kita memiliki pusat hukum yang diakui seluruh warga negara dan wilayahnya. Nyatanya kekuasaan ada di mana-mana, jadi pertanyaan mengapa mencoreti dan mengencingi halte TransJogja akan dibalas dengan teriakan, “Emangnya ini halte mbahmu? Suka-suka dong!”.

Maka tak akan ada yang berani bertanya, sebab sudah takut duluan. Dan orang-orang seperti ini, salah satunya adalah saya, memilih untuk merutuk, dan membiarkan hukum paling primitif, yakni hukum rimba, berlaku.

Balik lagi ke Trans Jogja. Saya memang lebih setia sama motor bebek, dan hanya bermobil sesekali saat bepergian dengan keluarga. Saya jarang naik bus. Bukan masalah copet, sumpek, bau keringat atau lainnya, tapi dengan tubuh setinggi lebih dari 170cm, kepala saya cukup sering terbentur langit-langit bus jika harus berdiri. Kalaupun mendapat tempat duduk, saya bermasalah memasukkan kaki panjang saya di antara tempat duduk.

Tapi, saya kepingin mencoba naik Trans Jogja itu suatu hari.

Advertisements