Perayaan

Kalau seabad kemunculan organisasi Boedi Oetomo dirayakan dengan sebuah perhelatan besar, saya kira itu pilihan. Perayaan yang dihadiri 30.000 pendukung acara dan disiarkan di seluruh stasiun televisi nasional, barangkali tepat bagi kondisi bangsa yang sedang perlu hiburan di tengah-tengah kesulitan ekonomi.

Toh perayaan begini tidak jahat. Ia hanya memberi alasan untuk sebuah festival hedonisme yang tak punya relevansi dengan pemikiran-pemikiran Dr. Soetomo dan kawan-kawannya. Perlu dicatat bahwa tidak semua negara mempunyai perayaan semacam begini. Meski perlu dicatat juga bahwa nggak semua yang merayakan Hari Kebangkitan Nasional tahu apa yang sedang dirayakan. Nggak percaya? Tanya saja anak tetangga saya (dia lulusan Amrik) yang yakin bahwa Boedi Oetomo adalah nama pahlawan nasional.

Namun sama seperti anak tetangga itu, saya juga datang dari generasi puluhan tahun setelah Boedi Oetomo berdiri. Saya besar di era yang gak pernah merasakan adanya usaha apapun untuk menjunjung kesederhaan, bahkan di tingkat simbol sekalipun. Saya datang dari zaman perayaan jor-joran, bahkan dalam masa krisis ekonomi. Tema perhelatan kolosal berbiaya ratusan juta sebagai titik balik kebangkitan bangsa dari keterpurukan, mungkin adalah parodi jika hingga selesainya acara, ia tetap menjadi tema.

Tapi sekali lagi; nggak semua negara punya perayaan macam ini. Seorang karib berkebangsaan Jerman yang tinggal di Jakarta begitu terharu dengan kehebohan Hari Kebangkitan Nasional kali ini. Dia juga menitikkan air mata setiap kali menonton perayaan tujuh belasan di istana merdeka, bahkan saat Jerman kalah di semi final Uber Cup (lho?). Katanya, di negaranya, bersikap nasionalis dianggap sakit jiwa – mengingat sejarah Hitler dgn Nazi-nya, nasionalisme adalah olok-olok. Beda dengan di sini, dia merasakan generasi yang gak pernah berjuang pun tetap bersemangat dan nasionalis.

Dan sarkasme sayalah yang membuat perasaan terharunya menjadi lelucon pribadi, sebab saya kesulitan membedakan semangat nasionalisme dan semangat hedonisme dalam perayaan macam itu. Tapi begitulah euforia. Dan perayaaan-perayaan begitu serupa ekstasi yang membuat kita lupa bahwa ada yang sakit dalam struktur masyarakat negeri ini.

Advertisements