Café Si Man

Itu bukan kafe baru di Jogja. In fact, it’s not a café at all!

Saya lagi ngomongin warung wedangannya pak Man yang dinamai begitu oleh pelanggannya. Letaknya di sebelah utara tembok stasiun Tugu. Andalan kafe ini adalah seduhan teh kentalnya. Tentu saja ada jualan lainnya, nasi sambel, nasi oseng-oseng bakmi, gorengan, dll

Buat teman-teman yang pernah menghabiskan masa kuliah di Jogja, pasti angkringan macam punya pak Man menjadi suatu nostalgia. Apalagi lesehan-lesehan wedang yang terletak di alun-alun Pakualaman. Wah, nggak mudah dilupakan.

Tempatnya yang temaram romantis bisa buat jajan roti, jadah atau pisang bakar sambil pacaran, atau ngobrol-ngobrol asyik sampai menjelang pagi tanpa takut diusir. Sajian nasi kucing dengan kepala atau ceker ayam, tahu-tempe bacem, sate usus, sate telur puyuh, ditemani wedang teh gula batu/pasir, teh poci, wedang jahe, STMJ, wedang tape dll. Suasana begini membuat orang bisa melupakan masalah-masalah hidupnya sejenak.

Kesederhanaan tempat-tempat seperti ini membuat seseorang enggak perlu minder sebab di sini semua strata sosial diterima dengan baik. Begitu masuk warung, enggak ada bedanya lagi apakah dia pegawai, mahasiswa, tukang becak ataupun buruh upahan. Lebih menarik lagi, bahan obrolan di sana bisa apa saja. Mulai dari angka-angka togel, masalah ekonomi pribadi maupun negara, stabilitas politik, sampai kebodohan-kebodohan pemerintah Amerika Serikat.

Minum teh panas manis kental di keremangan malam…

“..terhanyut akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Jogja..” ~ KLa Project

Advertisements