PADA (BEKAS) KOTA SEPEDA

Barusan saya membaca artikel tentang gaya hidup orang-orang di Amsterdam. Mereka umumnya lebih memilih naik sepeda ketimbang kendaraan bermotor. Mau gak mau saya jadi teringat masa orang bersepeda di Jogja masih jamak. Berbeda dengan tren bike to work, bersepeda ke tempat kerja di Jogja dulu merupakan kebutuhan, bukan untuk alasan kesehatan apalagi gaya-gayaan, sebab kendaraan bermesin masih mahal.

Sekitar tahun 70an sampai awal tahun 90an, adalah biasa melihat rombongan sepeda onthel yang dinaiki anak sekolah, mahasiswa, pegawai negeri, karyawan toko, simbok sayur, hingga buruh pabrik di hampir setiap jalanan di Jogja. Kala itu,  menyusuri jalan lingkar pada pagi sebelum pukul tujuh pagi, membuat kita bisa melihat ratusan bikers to work tersebut memenuhi jalur lambat dan berebut jalan dengan kendaraan bermotor.

Para pemakai motor dan mobil sudah maklum dan tak perlu mengklakson untuk minta jalan, sebab pengendara sepeda itu gak akan minggir. Sekali lagi itu bukan gagah-gagahan. Mereka hanya tak punya kesadaraan bahwa motor dan mobil lebih besar ukurannya sehingga perlu ruang lebih banyak di jalan.

Sekarang pemandangan begitu cuma bisa dilihat di beberapa tempat, seperti kampus atau pada acara car free day di kawasan nol kilometer tiap hari Minggu. Para pengendara sepeda kayuh sekarang memilih untuk naik motor matic, Pergeseran itu terjadi demi efisiensi atau bahkan gengsi. Simbok sayur gak lagi mau bersepeda sebab bebek matic lebih cepat dan muat banyak. Ia bisa mengantar sayur dan anak ke sekolah sekaligus.

Begitupun para mahasiswa dan pegawai. Maka, meskipun harga bensin terus naik, pit montor (sepeda motor; jawa) tetap menjadi pilihan. Dan ini tidak berlaku hanya untuk orang dewasa, anak SD pun bersliweran ke sana kemari naik motor tanpa helm pengaman dan SIM. Segala macam protes saya tentang anak kecil naik motor seolah memantul ke luar angkasa. Tak pernah didengar, sebab orangtuanya mengira membolehkan anak di bawah umur berkendara di jalan raya adalah bentuk dari kasih sayang.

Begitulah, Jogja kini telah menjadi bekas kota sepeda. Motor dan mobil memenuhi jalan-jalan yang di beberapa kawasan tertentu, lebarnya tak lebih dari dua buah andong yang bersisian. Namun, banyak juga yang menyetir kendaraan bermotor seperti mengendarai sepeda. Membayangkan mobil juga seperti sepeda. Buat sepeda, jalur kanan dan kiri gak banyak bedanya.

Pernah suatu kali saya menemui seorang kenalan di daerah Tirtodipuran. Memasuki gang menuju rumahnya, saya susah payah membelokkan mobil saya yang tanpa power steering. Gang itu amat sempit, hanya muat satu mobil tanpa sisa ruang di kanan dan kirinya, bahkan buat pejalan kaki. Saya harus maju mundur beberapa kali agar bisa masuk.

Ironisnya, begitu hidung mobil masuk ke dalam gang, dari ujung lain muncul motor bebek matic yang dinaiki seorang ibu dengan balitanya. Ia tak kelihatan ingin repot-repot bersimpati terhadap kesulitan saya, dan terus maju untuk “memaksa” mobil saya agar mundur demi dirinya. Oh, saya kira ibu itu tidak egois. Sama seperti ratusan pengguna sepeda yang memenuhi jalan lingkar dahulu , ibu itu cuma tidak mengerti bahwa menyetir mobil begitu berbeda dengan mengendarai sepeda atau motor matic, apalagi supaya bisa masuk gang.

Kembali ke tren bersepeda, saya pernah mencobanya beberapa waktu lalu. Alasannya pingin sehat secara efisien. Benar bahwa saya sudah mencoba olah raga lain. Saya rutin jogging, berenang dan yoga (tapi segan pergi ke pusat kebugaran, sebab di sana adalah kumpulan pria berbadan bagus, terlalu banyak gangguan! 😀 ) cuma saya tetap kepingin bersepeda. Alasannya biar seperti teman-teman yang terlihat keren saat memamerkan momen-momen bersepeda di IG story mereka.

Namun kegiatan itu hanya bertahan dua bulan. Sebab alih-alih sehat, saya malah diasapi dan diteriaki kenek angkot karena dianggap menghalangi jalan.

Advertisements

TONGKAT

Apa yang terlintas begitu mendengar kata Madura?

Pantai nan indah, tambak garam, sate, karapan sapi …dan tentu saja ramuan Madura! Yang terakhir itu adalah gara-gara kawan ibu saya yang baru saja kembali dari berlibur di pulau cantik itu.

Beliau mengoleh-olehi saya sebuah tongkat Madura. Katanya untuk menyenangkan suami. Melihat saya tak segera paham, kawan ibu itu menjelaskan begini; tongkat Madura adalah ramuan herbal yang dipampatkan sebesar cerutu, dipakai dengan memasukannya ke vagina sesaat sebelum bersanggama. Gunanya untuk menyerap cairan di sana sehingga vagina terasa kesat. Kalau kesat, pasti suami bahagia, katanya.

Mendadak saya jadi sebal sama kawan ibu itu. 😦

Pertama, bagaimana dia tahu suami saya tidak bahagia? Mereka kan belum pernah ketemu. Kedua, saya skeptis sebab – katakanlah saya sok logis – tapi bukankah lubrikasi pada vagina sangat diperlukan dalam persetubuhan? Ketiga, tanpa lubrikasi pastilah hubungan seks terasa begitu menyakitkan, lalu bagaimana saya bersenang-senang?

Kenikmatan seks lebih sulit didapat oleh perempuan sehingga dibutuhkan peralatan tambahan selain penis sungguhan. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan data sederhana yang saya kumpulkan ketika mengetik kata sex toys pada mesin pencari. Menarik bahwa separuh atau lebih piranti seks yang ditawarkan adalah beragam  vibrator untuk wanita. Sementara Viagra, krim untuk mempertahankan ereksi, pompa untuk memperbesar penis, dan boneka untuk masturbasi berada di urutan berikutnya.

Ini artinya, konsumen terbanyak situs-situs semacam itu adalah cewek. Kesimpulannya, dalam hal seks, perempuan lebih butuh bersenang-senang dibandingkan pria.

Cuma barangkali saya memang sok feminis. Buat saya tongkat madura nggak berarti apapun selain menguatkan mitos kejantanan pada simbol phallus ini.

Btw, saya masih menyimpan oleh-oleh kawan ibu saya itu. Ada yang mau?

G-STRING (part 2)

Setelah pernah ndeso sewaktu menemukan g-string buat laki-laki di sebuah mall (kisahnya bisa baca di sini), kali ini saya begitu norak saat melihatnya dikenakan seseorang.

Bermula saat liburan. Pagi itu saya berencana berenang di hotel tempat saya menginap. Memang ada tempat mandi di sebelah ruang ganti pakaian, namun di dekat kolam juga tersedia pancuran buat yang ingin membilas diri di sana.

Lalu datanglah cowok brondong itu. Ia keluar dari kolam dan menuju pancuran untuk mandi. Tentu bukan hal aneh. Hanya saja, saat dia tengah mandi sambil memutar-mutar tubuhnya di bawah shower, saya melihat sesuatu yang tak biasa. Bagian belakang celana dalam yang harusnya menutupi bokong itu terbuka lebar. Wowww!!!

Katakanlah saya ndeso karena awalnya saya pikir itu model swempak teranyar. Ternyata ia memakai g-string. Meski tidak sama persis bentuknya, konsep dasar modelnya sama dengan g-string buat cewek. Duh gusti, betapa saya tidak tahu perkembangan mode terkini sama sekali.

Barangkali begini akibatnya kalau sok alim. Selama ini, kalau membelikan suami, tahunya cuma cap buaya mangap atau yang mengklaim anti selip. Celana dalam merek itu bentuknya begitu-begitu saja, paling beda di warna, bahan dan motifnya. Itupun belinya di Indomaret.

Mungkin sesekali saya musti belanja celana dalam di butik khusus, biar tahu model cutting edge ~ seperti cowok metroseksual yang sedang mandi di pancuran itu.

Dan Tuhan, maafkan saya karena menikmati pemandangan bagus dari bokong kencang yang menyembul dari g-stringnya.

DOA BUNDA

Apakah seorang ibu pasti mendoakan hal-hal baik untuk anaknya?

Saya senang jalan pagi di hari Sabtu atau Minggu.

Rute yang saya ambil biasanya kampung-kampung seputar kompleks perumahan saya. Melewati jalan-jalan sepi nan tentram, seringnya saya bertemu dengan bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi. Mereka mengobrol sambil menghabiskan rokok klobot, terkadang juga sambil main catur. Saya suka mengamati suasana begitu.

Pagi itu, warung kopi sepi. Hanya ada dua lelaki sedang menyeruput kopi ditemani singkong goreng. Ibu pemilik warung duduk di bangku menunggui anaknya yang sedang bermain dengan beberapa bocah lain di depan warung. Saya menangguk dan tersenyum, mencoba menyapanya, namun rupanya ia sedang memperhatikan sesuatu hingga tak melihat sapaan saya.

Tiba-tiba, ibu itu berujar, “Ampun curang, Nduk, Ora ilok.” ~ Jangan curang, Nak. Itu tidak baik.

Saya tak tahu permainan apa yang bocah-bocah itu mainkan, atau bagaimana anaknya bisa sampai bermain curang. Ucapan ibu itu lebih menarik perhatian saya, dan terus terngiang-ngiang dalam telinga saat saya sampai di rumah.

Tak ada seorang ibu pun yang ingin anaknya berlaku curang, bahkan dalam permainan sepele sekalipun. Ibu pemilik warung, seperti ibu-ibu lainnya, sudah pasti mendoakan kebaikan bagi buah hatinya. Entah dalam shalat atau sembahyang, seorang ibu pasti menitipkan nama anaknya pada malaikat. Meminta pesuruh Tuhan untuk menyampaikan harapan baik agar anaknya menjadi orang beriman, berbudi luhur, dan berguna bagi sesama.

Belum pernah saya dengar ada ibu yang mendoakan hal buruk ~ kecuali ibunya Malin Kundang yang memohon anak durhakanya menjadi batu.

Tetapi mungkinkah semua doa ibu tersebut mulia?  Lantas bagaimana dengan para koruptor? Apa iya doa ibunya yang salah sehingga mereka tega mencuri duit rakyat? Bukankah konon di neraka kelak koruptor akan makan bangkai?

Malamnya, saya menceritakan pemikiran itu kepada suami. Seperti biasa, ia akan menjawab kegelisahan saya dengan kalem. “Sudahlah, biarin aja. Neraka kan juga perlu bahan bakar supaya tetap abadi.” katanya sambil mengisik-isik kepala saya.

Saya ingin mendebat, tapi isik-isikannya membuat saya ngantuk. Sesaat kemudian, saya sudah lelap.

3G  (G-string, G-male dan G-spot)

Mungkin saya ketinggalan jaman, tapi beneran deh, saya baru tau kalau ada g-string buat cowok. Waktu jalan-jalan di sebuah mall, nggak sengaja saya lihat manekin setengah badan ke bawah yang sedang dipakaikan g-string.

Awalnya saya pikir itu g-string untuk cewek yang sama sekali gak seksi sebelum akhirnya saya sadar manekin itu ada di tengah tumpukan underpants cowok yang lagi diskon. Melihat pantat mulus sang manekin yang dihiasi segaris tali tipis di selangkangan, mau gak mau saya membayangkan lycra hitam itu dipakai oleh teman-teman cowok saya. Eeeuuh!

Saya dulu pernah membeli g-string, hanya karena penasaran sebab model di majalah jadi kelihatan begitu seksi dengannya. Yang saya dapat cuma kecewa karena saya membelinya tanpa mempertimbangkan bentuk perut dan bokong saya yang beda jauh dengan sang model. Selain itu rasa risih di selangkangan membuat cara jalan dan duduk saya jadi aneh. Jadi, g-string itu hanya saya pakai untuk kesempatan tertentu saja. You know what I mean! 😉

Anyway! G-string buat cowok itu bener-bener bikin saya penasaran. Saya pingin tahu apakah segaris lycra tipis di selangkangan itu akan mengganggu  atau malah merangsang si pemakai? Sebab g-spot pria berada di sekitar daerah itu.

Menurut buku “Total Sex: Complete Guide to Everything Men Need to Know and Want to Know About Sex,” g-spot pria atau sering disebut g-male terletak pada kelenjar prostatnya. Menemukannya sebenarnya cukup ribet dan kurang higenis, karena hanya dapat dilakukan dengan memasukkan jari tangan ke sekitar lubang anus untuk menemukan titik berukuran sebiji kenari. Namun sekali ditemukan, titik tersebut akan menimbulkan efek rangsang yang begitu hebat.

Saya jadi inget adegan dalam film American Pie 2. Seorang dokter memeriksa bagian anal pasien dengan cara seperti di atas. Yang terjadi berikutnya adalah pasien yang awalnya ketakutan divonis kanker prostat malah menjadi begitu terangsang ~ dan sesudahnya tak mampu lagi orgasme dengan cara biasa.

CAFÉ SI MAN

Itu bukan kafe baru di Jogja. In fact, it’s not a café at all!

Saya lagi ngomongin warung wedangannya pak Man yang dinamai begitu oleh pelanggannya. Letaknya di sebelah utara tembok stasiun Tugu. Andalan kafe ini adalah seduhan teh kentalnya. Tentu saja ada jualan lainnya, nasi sambel, nasi oseng-oseng bakmi, gorengan, dll

Buat teman-teman yang pernah menghabiskan masa kuliah di Jogja, pasti angkringan macam punya pak Man menjadi suatu nostalgia. Apalagi lesehan-lesehan wedang yang terletak di alun-alun Pakualaman. Wah, nggak mudah dilupakan.

Tempatnya yang temaram romantis bisa buat jajan roti, jadah atau pisang bakar sambil pacaran, atau ngobrol-ngobrol asyik sampai menjelang pagi tanpa takut diusir. Sajian nasi kucing dengan kepala atau ceker ayam, tahu-tempe bacem, sate usus, sate telur puyuh, ditemani wedang teh gula batu/pasir, teh poci, wedang jahe, STMJ, wedang tape dll. Suasana begini membuat orang bisa melupakan masalah-masalah hidupnya sejenak.

Kesederhanaan tempat-tempat seperti ini membuat seseorang enggak perlu minder sebab di sini semua strata sosial diterima dengan baik. Begitu masuk warung, enggak ada bedanya lagi apakah dia pegawai, mahasiswa, tukang becak ataupun buruh upahan. Lebih menarik lagi, bahan obrolan di sana bisa apa saja. Mulai dari angka-angka togel, masalah ekonomi pribadi maupun negara, stabilitas politik, sampai kebodohan-kebodohan pemerintah Amerika Serikat.

Minum teh panas manis kental di keremangan malam…

“..terhanyut akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Jogja..” ~ KLa Project

TRANS JOGJA

Akhirnya Jogja punya sistem transportasi bus cepat, murah dan ber-AC.

Bus bernama Trans Jogja ini mulai beroperasi beberapa hari lalu. Badan bus bercat hijau  dan kuning itu memang nggak sebesar Trans Jakarta, mungkin lebih mirip bus Patas tapi lumayanlah, sebab Jogja tak punya Patas. Bus bertingkat pun nggak ada. Bukan apa-apa tapi kabel-kabel listrik di kota ini terentang begitu rendah sehingga mustahil dilewati bus tingkat.

Sebenarnya saya belum tahu persis rute bus Trans Jogja namun kelihatannya hanya akan mengakomodasi jalan-jalan utama saja, sebab halte-haltenya tidak berada di jalan-jalan sekunder.

Yang bikin prihatin adalah bahwa sebelum premiere penggunaannya, halte-halte tersebut sudah dicoreti grafitti, dirusak jendela nakonya, bahkan konon sudah dikencingi. Oh, mungkin para pelakunya tak bermaksud vandal. Mereka hanya tidak busa membedakan halte bus dengan WC umum, dan mengira jendela nako itu milik bersama.

Susahnya, yang nggak melakukanlah yang melihat hasil akhirnya, dan lantas menjadi geram. Seandainya bisa bertemu pelakunya, mungkin ingin meneriaki, “Siapa yang memberi kalian hak merusak halte ini?”

Tapi, saya kira pertanyaan formalis macam itu bakal salah kaprah untuk Indonesia sebab mengandaikan negara kita memiliki pusat hukum yang diakui seluruh warga negara dan wilayahnya. Nyatanya kekuasaan ada di mana-mana, jadi pertanyaan mengapa mencoreti dan mengencingi halte TransJogja akan dibalas dengan teriakan, “Emangnya ini halte mbahmu? Suka-suka dong!”.

Maka tak akan ada yang berani bertanya, sebab sudah takut duluan. Dan orang-orang seperti ini, salah satunya adalah saya, memilih untuk merutuk, dan membiarkan hukum paling primitif, yakni hukum rimba, berlaku.

Balik lagi ke Trans Jogja. Saya memang lebih setia sama motor bebek, dan hanya bermobil sesekali saat bepergian dengan keluarga. Saya jarang naik bus. Bukan masalah copet, sumpek, bau keringat atau lainnya, tapi dengan tubuh setinggi lebih dari 170cm, kepala saya cukup sering terbentur langit-langit bus jika harus berdiri. Kalaupun mendapat tempat duduk, saya bermasalah memasukkan kaki panjang saya di antara tempat duduk.

Tapi, saya kepingin mencoba naik Trans Jogja itu suatu hari.