Gombal Batik

Saya suka motif batik. Saya hanya nggak suka mengenakan baju batik. Dan karena ini saya kerap diejek tak nasionalis.

Oh, tentu saja saya sedih, tetapi terlalu malas menjelaskan bahwa motif batik membuat tubuh-model-polwan-saya kelihatan penuh sehingga saya hanya memakainya bila ada alasan kuat, itupun harus motif kembang-kembang kecil yang hampir tak terlihat dari kejauhan.

Meski begitu sebetulnya saya dekat dengan batik, sebab di masa kecil, eyang putri punya satu lemari penuh kain batik.

Eyang putri menyusun kain-kain batiknya dengan rapi. Semuanya batik tulis. Ia tak pernah mencucinya dengan deterjen, melainkan dengan cairan dari biji lerak lantas mengangin-anginkannya di tempat teduh – bukan dijemur di bawah matahari. ’Sebab warna batik bisa memudar’ katanya.

Kain-kain batiknya juga tak disetrika dengan setrika listrik, melainkan setrika arang segede gaban (yang tak sering lagi bisa ditemui saat ini). Sebagai pengusir ngengat dan bau, eyang putri meletakan akar cendana dan kuntum melati, bukan kapur barus. Wangi campuran akar wangi dan bunga melati itu masih menempel dalam sel-sel otak saya sampai-sampai bila melewati gerai yang menjualnya di pasar tradisional, ingatan saya langsung melekat pada eyang putri.

Di masa itu, sekitar tahun 70an, batik tulis adalah barang berharga. Ia bisa digadaikan layaknya emas, barang elektronik atau motor. Kain yang bukan batik tulis dianggap tak bergengsi, sebab suatu saat bisa luntur, kumal atau rusak. Dalam bahasa Jawa, kain macam begitu disebut gombal.

Tugas gombal adalah sebagai lap pembersih lantai atau kotoran. Meski gombal dimasukkan dalam kasta terendah di dunia perkainan, ia masih kerap dipakai untuk menyebut kain baru yang tak cukup cantik. Ejekan “Gombal kayak gitu kok dibeli’” atau ”Gombal kok mahal banget’ – lantas menjadi ungkapan yang biasa didengar buat menyepelekan kain jenis lain.

Nah, di sinilah saya mulai penasaran.

Batik rancangan para desainer yang saya lihat di majalah barangkali tak semuanya adalah batik tulis, namun harganya bisa begitu mahal. Barangkali saya bisa beli motor baru dengan harga yang sama dengan selembar blus batik non tulis keluaran butik tertentu. Maka masuk akal juga saat seorang kawan lain menyebutnya ’gombal bermerk’.

Akan tetapi barangkali dia menyebut begitu cuma buat membela saya yang diejek tak nasionalis. Sebab teman yang mengejek tadi memang baru membeli gombal bermerk (yang katanya murah – cuma tiga ratus lima puluh ribuan). Saya jadi dongkol karena tak mampu membeli benda begitu.

Hanya saja saya cuma berani membatin bahwa teman saya itu harusnya lebih sering menjelajahi Malioboro atau pasar Beringharjo. Sebab belum lama saya melihat blus yang mirip – seharga empat puluh ribuan saja, itupun belum ditawar. Sigh!

Advertisements

Lunar Eclipse

Hari Jumat, 27 Juli lalu, hampir setengah penduduk bumi, salah satunya saya, sangat excited dengan fenomena gerhana bulan total, yang bersamaan waktu dengan opisisi planet Mars. Gila! Indah banget! Saya bela-belain nunggu sampai dini hari cuma buat mengaguminya. Memang tak sampai selesai karena keburu ngantuk, tapi saya kemudian saya puas menonton tayang ulangnya di channel Space & Universe.

Entah kenapa semua hal yang berhubungan dengan alam semesta selalu membuat saya bergairah. Dari kecil saya senang mengamati bintang-bintang di langit, dan ketika kemudian mengetahui bahwa bintang-bintang itu sebetulnya adalah matahari, saya menjadi begitu takjub. Bayangkan, jika matahari kita memiliki sembilan planet lengkap dengan satelitnya masing-masing, maka berapa juta miliar planet yang mengelilingi trilyunan bintang-yang-sebetulnya-matahari-itu. Ah, membayangkan semua itu saat menulis ini saja bisa membuat saya tersenyum lebar saking takjubnya.

Saya hobi membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan astronomi, juga mengikuti komunitas-komunitas online-nya. Mengunjungi situs NASA dan sejenisnya menjadi sebuah kebiasaan, terutama jika ada fenomena alam yang akan terjadi. Misalnya, ya gerhana bulan total kemarin itu.

Bulan memang sebuah misteri. Belum ada manusia bumi yang pernah bisa melihat bagian belakangnya. Barangkali itu alasan begitu banyak dongeng tentang bulan, baik di negeri sendiri maupun di negara orang. Lucunya, bulan itu benar-benar memengaruhi mental dan kekuatan fisik saya. Ini saya sadari ketika beberapa kali fenomena gerhana bulan, atau supermoon terjadi. Saya lebih mudah tersinggung, gampang menangis, cepat lelah, dan sakit di beberapa bagian tubuh.

Dulu saya kira hanya gejala PMS biasa, tapi bahkan saat bukan waktunya pun, asal bersamaan dengan fenomena bulan (purnama, gerhana, supermoon) saya pasti jadi jauh lebih sensitif. Dari beberapa bacaan, saya kemudian mulai paham bahwa memang bulan memiliki kekuatan besar yang memengaruhi, tidak hanya pasang surut laut, tapi juga tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan. Pemahaman ini barangkali yang dulu mendorong Leitch Ritchie untuk melahirkan “The Man-Wolf”. Sebuah kisah fiksi tentang manusia serigala yang terbit tahun 1831.

Meski badan rasanya remuk dan jiwa seperti runtuh, saya tetap cinta fenomena bulan, dan juga semua fenomena alam semesta. Saya selalu menunggu-nunggu kapan fenomena berikutnya tiba. Meski tak selalu bisa menikmatinya langsung, mengikuti beritanya saja sudah membuat saya senang. Bedanya adalah, jika dulu saya dengan noraknya membagikan tautan berita, atau sibuk membuat foto-foto untuk sekadar memajangnya di media sosial agar semua kawan tahu, sekarang saya lebih relaks. Saya menikmati gerhana bulan tanpa melakukan apapun. Tidak ada kamera atau ponsel di dekat saya. Hanya berbaring telentang, mengintip lewat teropong, menikmati kesunyian, menunggu … lantas buru-buru masuk rumah kalau sudah merasa mulai masuk angin 😀

Pada (Bekas) Kota Sepeda

Barusan saya membaca artikel tentang gaya hidup orang-orang di Amsterdam. Mereka umumnya lebih memilih naik sepeda ketimbang kendaraan bermotor. Mau gak mau saya jadi teringat masa orang bersepeda di Jogja masih jamak. Berbeda dengan tren bike to work, bersepeda ke tempat kerja di Jogja dulu merupakan kebutuhan, bukan untuk alasan kesehatan apalagi gaya-gayaan, sebab kendaraan bermesin masih mahal.

Sekitar tahun 70an sampai awal tahun 90an, adalah biasa melihat rombongan sepeda onthel yang dinaiki anak sekolah, mahasiswa, pegawai negeri, karyawan toko, simbok sayur, hingga buruh pabrik di hampir setiap jalanan di Jogja. Kala itu,  menyusuri jalan lingkar pada pagi sebelum pukul tujuh pagi, membuat kita bisa melihat ratusan bikers to work tersebut memenuhi jalur lambat dan berebut jalan dengan kendaraan bermotor.

Para pemakai motor dan mobil sudah maklum dan tak perlu mengklakson untuk minta jalan, sebab pengendara sepeda itu gak akan minggir. Sekali lagi itu bukan gagah-gagahan. Mereka hanya tak punya kesadaraan bahwa motor dan mobil lebih besar ukurannya sehingga perlu ruang lebih banyak di jalan.

Sekarang pemandangan begitu cuma bisa dilihat di beberapa tempat, seperti kampus atau pada acara car free day di kawasan nol kilometer tiap hari Minggu. Para pengendara sepeda kayuh sekarang memilih untuk naik motor matic, Pergeseran itu terjadi demi efisiensi atau bahkan gengsi. Simbok sayur gak lagi mau bersepeda sebab bebek matic lebih cepat dan muat banyak. Ia bisa mengantar sayur dan anak ke sekolah sekaligus.

Begitupun para mahasiswa dan pegawai. Maka, meskipun harga bensin terus naik, pit montor (sepeda motor; jawa) tetap menjadi pilihan. Dan ini tidak berlaku hanya untuk orang dewasa, anak SD pun bersliweran ke sana kemari naik motor tanpa helm pengaman dan SIM. Segala macam protes saya tentang anak kecil naik motor seolah memantul ke luar angkasa. Tak pernah didengar, sebab orangtuanya mengira membolehkan anak di bawah umur berkendara di jalan raya adalah bentuk dari kasih sayang.

Begitulah, Jogja kini telah menjadi bekas kota sepeda. Motor dan mobil memenuhi jalan-jalan yang di beberapa kawasan tertentu, lebarnya tak lebih dari dua buah andong yang bersisian. Namun, banyak juga yang menyetir kendaraan bermotor seperti mengendarai sepeda. Membayangkan mobil juga seperti sepeda. Buat sepeda, jalur kanan dan kiri gak banyak bedanya.

Pernah suatu kali saya menemui seorang kenalan di daerah Tirtodipuran. Memasuki gang menuju rumahnya, saya susah payah membelokkan mobil saya yang tanpa power steering. Gang itu amat sempit, hanya muat satu mobil tanpa sisa ruang di kanan dan kirinya, bahkan buat pejalan kaki. Saya harus maju mundur beberapa kali agar bisa masuk.

Ironisnya, begitu hidung mobil masuk ke dalam gang, dari ujung lain muncul motor bebek matic yang dinaiki seorang ibu dengan balitanya. Ia tak kelihatan ingin repot-repot bersimpati terhadap kesulitan saya, dan terus maju untuk “memaksa” mobil saya agar mundur demi dirinya. Oh, saya kira ibu itu tidak egois. Sama seperti ratusan pengguna sepeda yang memenuhi jalan lingkar dahulu , ibu itu cuma tidak mengerti bahwa menyetir mobil begitu berbeda dengan mengendarai sepeda atau motor matic, apalagi supaya bisa masuk gang.

Kembali ke tren bersepeda, saya pernah mencobanya beberapa waktu lalu. Alasannya pingin sehat secara efisien. Benar bahwa saya sudah mencoba olah raga lain. Saya rutin jogging, berenang dan yoga (tapi segan pergi ke pusat kebugaran, sebab di sana adalah kumpulan pria berbadan bagus, terlalu banyak gangguan! 😀 ) cuma saya tetap kepingin bersepeda. Alasannya biar seperti teman-teman yang terlihat keren saat memamerkan momen-momen bersepeda di IG story mereka.

Namun kegiatan itu hanya bertahan dua bulan. Sebab alih-alih sehat, saya malah diasapi dan diteriaki kenek angkot karena dianggap menghalangi jalan.

Rumput Sebelah Lebih Hijau

Ketemu teman lama bisa jadi hal yang menyenangkan, bisa juga tidak.

Secara nggak sengaja saya ketemu seorang teman kuliah di sebuah mall. Saya ingat dia itu dulu teman yang nyentrik. Badannya jangkung dan kurus, suka pakai jeans belel dan t-shirt yang mungkin jarang dicuci, dan rambut panjang ikalnya kerap acak-acakan.

Saat ketemu lagi, penampilannya bikin pangling. Badannya tambah jangkung tapi tidak kurus. Atletis malah. Rupanya dia memang rajin membentuk otot-ototnya di gym. Pakaiannya bermerek, dan rambutnya pendek berponi seperti aktor Korea. Overall, he is well-groomed lah.

Rupanya dia baru kembali dari Eropa, menggarap sebuah film dokumenter. Saya nggak menyangka setelah lulus kuliah arsitektur, dia mengambil kuliah perfilman di negara Belanda. Dan setelahnya, dia menetap di Amsterdam dan hanya pulang ke Indonesia sesekali.

Dia mentraktir saya minum kopi. Karena saya memang sedang luang, jadilah kami menghabiskan hampir dua jam mengobrol. Banyak cerita seru tentunya, tentang kehidupannya di Belanda, tentang pengalaman kerjanya, tentang perjalanan ke negara-negara asing, dan banyak lagi.

Dia terus bercerita dengan semangat. Awalnya saya menikmati kisah-kisahnya, tapi kemudian perlahan-lahan perasaan sebal muncul di hati. Sebab dia bisa punya pengalaman seseru itu, sementara saya enggak. I really envy him.

Barangkali memang bawaan lahir kalau saya suka sirik sama keberhasilan orang lain, sebab bukan sekali itu aja saya punya perasaan sebal ketika teman-teman bercerita tentang dirinya.

Saya jadi ingat dua teman lain. Yang satu kerja di sebuah perusahaan minyak, dan saat ini ditempatkan di Houston, Amerika. Tiap kali dia bolak-balik ke luar negeri; Jerman, Inggris, Bangkok, Tibet, Selandia Baru, dan entah apa lagi. Then, I envy her.

Teman satu lagi, baru saja menyelesaikan pendidikan di London atas beasiswa dari British Council, dan terakhir saya dengar dia kerja sebagai koresponden The National Geographic. Saya sebal sekali waktu dia memperlihatkan foto-foto perjalannya di London, Perancis, Monaco, dan entah mana lagi. Then I envy her.

Setiap kali rasa iri mulai muncul, saya selalu menghibur diri dengan mencari-cari kambing hitam. Saya berpikir mereka bisa sebegitu hebat karena sampai saat ini mereka masih lajang, jadi lebih bebas saat memutusukan keinginan-keinginanya. Tentu saja pemikiran saya salah, sebab sekali lagi saya cuma iri, dan orang iri nggak bisa berpikir jernih.

I am a housewife and a fulltime mom.

Dan rumput sebelah selalu lebih hijau. Di saat saya iri dengan kehidupan teman-teman yang masih lajang, mereka iri dengan kehidupan saya. Sebab saya punya seseorang yang selalu bisa diajak berbagi, juga tawa anak-anak yang memeriahkan hari.

Well, gimanapun juga hidup adalah serangkaian pilihan yang dibuat sendiri oleh yang menjalaninya, jadi gak boleh disesali …ngiri aja! 😀

Tongkat

Apa yang terlintas begitu mendengar kata Madura?

Pantai nan indah, tambak garam, sate, karapan sapi …dan tentu saja ramuan Madura! Yang terakhir itu adalah gara-gara kawan ibu saya yang baru saja kembali dari berlibur di pulau cantik itu.

Beliau mengoleh-olehi saya sebuah tongkat Madura. Katanya untuk menyenangkan suami. Melihat saya tak segera paham, kawan ibu itu menjelaskan begini; tongkat Madura adalah ramuan herbal yang dipampatkan sebesar cerutu, dipakai dengan memasukannya ke vagina sesaat sebelum bersanggama. Gunanya untuk menyerap cairan di sana sehingga vagina terasa kesat. Kalau kesat, pasti suami bahagia, katanya.

Mendadak saya jadi sebal sama kawan ibu itu. 😦

Pertama, bagaimana dia tahu suami saya tidak bahagia? Mereka kan belum pernah ketemu. Kedua, saya skeptis sebab – katakanlah saya sok logis – tapi bukankah lubrikasi pada vagina sangat diperlukan dalam persetubuhan? Ketiga, tanpa lubrikasi pastilah hubungan seks terasa begitu menyakitkan, lalu bagaimana saya bersenang-senang?

Kenikmatan seks lebih sulit didapat oleh perempuan sehingga dibutuhkan peralatan tambahan selain penis sungguhan. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan data sederhana yang saya kumpulkan ketika mengetik kata sex toys pada mesin pencari. Menarik bahwa separuh atau lebih piranti seks yang ditawarkan adalah beragam  vibrator untuk wanita. Sementara Viagra, krim untuk mempertahankan ereksi, pompa untuk memperbesar penis, dan boneka untuk masturbasi berada di urutan berikutnya.

Ini artinya, konsumen terbanyak situs-situs semacam itu adalah cewek. Kesimpulannya, dalam hal seks, perempuan lebih butuh bersenang-senang dibandingkan pria.

Cuma barangkali saya memang sok feminis. Buat saya tongkat madura nggak berarti apapun selain menguatkan mitos kejantanan pada simbol phallus ini.

Btw, saya masih menyimpan oleh-oleh kawan ibu saya itu. Ada yang mau?

G-String (Part 2)

Setelah pernah ndeso sewaktu menemukan g-string buat laki-laki di sebuah mall (kisahnya bisa baca di sini), kali ini saya begitu norak saat melihatnya dikenakan seseorang.

Bermula saat liburan. Pagi itu saya berencana berenang di hotel tempat saya menginap. Memang ada tempat mandi di sebelah ruang ganti pakaian, namun di dekat kolam juga tersedia pancuran buat yang ingin membilas diri di sana.

Lalu datanglah cowok brondong itu. Ia keluar dari kolam dan menuju pancuran untuk mandi. Tentu bukan hal aneh. Hanya saja, saat dia tengah mandi sambil memutar-mutar tubuhnya di bawah shower, saya melihat sesuatu yang tak biasa. Bagian belakang celana dalam yang harusnya menutupi bokong itu terbuka lebar. Wowww!!!

Katakanlah saya ndeso karena awalnya saya pikir itu model swempak teranyar. Ternyata ia memakai g-string. Meski tidak sama persis bentuknya, konsep dasar modelnya sama dengan g-string buat cewek. Duh gusti, betapa saya tidak tahu perkembangan mode terkini sama sekali.

Barangkali begini akibatnya kalau sok alim. Selama ini, kalau membelikan suami, tahunya cuma cap buaya mangap atau yang mengklaim anti selip. Celana dalam merek itu bentuknya begitu-begitu saja, paling beda di warna, bahan dan motifnya. Itupun belinya di Indomaret.

Mungkin sesekali saya musti belanja celana dalam di butik khusus, biar tahu model cutting edge ~ seperti cowok metroseksual yang sedang mandi di pancuran itu.

Dan Tuhan, maafkan saya karena menikmati pemandangan bagus dari bokong kencang yang menyembul dari g-stringnya.

Doa Bunda

Apakah seorang ibu pasti mendoakan hal-hal baik untuk anaknya?

Saya senang jalan pagi di hari Sabtu atau Minggu.

Rute yang saya ambil biasanya kampung-kampung seputar kompleks perumahan saya. Melewati jalan-jalan sepi nan tentram, seringnya saya bertemu dengan bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi. Mereka mengobrol sambil menghabiskan rokok klobot, terkadang juga sambil main catur. Saya suka mengamati suasana begitu.

Pagi itu, warung kopi sepi. Hanya ada dua lelaki sedang menyeruput kopi ditemani singkong goreng. Ibu pemilik warung duduk di bangku menunggui anaknya yang sedang bermain dengan beberapa bocah lain di depan warung. Saya menangguk dan tersenyum, mencoba menyapanya, namun rupanya ia sedang memperhatikan sesuatu hingga tak melihat sapaan saya.

Tiba-tiba, ibu itu berujar, “Ampun curang, Nduk, Ora ilok.” ~ Jangan curang, Nak. Itu tidak baik.

Saya tak tahu permainan apa yang bocah-bocah itu mainkan, atau bagaimana anaknya bisa sampai bermain curang. Ucapan ibu itu lebih menarik perhatian saya, dan terus terngiang-ngiang dalam telinga saat saya sampai di rumah.

Tak ada seorang ibu pun yang ingin anaknya berlaku curang, bahkan dalam permainan sepele sekalipun. Ibu pemilik warung, seperti ibu-ibu lainnya, sudah pasti mendoakan kebaikan bagi buah hatinya. Entah dalam shalat atau sembahyang, seorang ibu pasti menitipkan nama anaknya pada malaikat. Meminta pesuruh Tuhan untuk menyampaikan harapan baik agar anaknya menjadi orang beriman, berbudi luhur, dan berguna bagi sesama.

Belum pernah saya dengar ada ibu yang mendoakan hal buruk ~ kecuali ibunya Malin Kundang yang memohon anak durhakanya menjadi batu.

Tetapi mungkinkah semua doa ibu tersebut mulia?  Lantas bagaimana dengan para koruptor? Apa iya doa ibunya yang salah sehingga mereka tega mencuri duit rakyat? Bukankah konon di neraka kelak koruptor akan makan bangkai?

Malamnya, saya menceritakan pemikiran itu kepada suami. Seperti biasa, ia akan menjawab kegelisahan saya dengan kalem. “Sudahlah, biarin aja. Neraka kan juga perlu bahan bakar supaya tetap abadi.” katanya sambil mengisik-isik kepala saya.

Saya ingin mendebat, tapi isik-isikannya membuat saya ngantuk. Sesaat kemudian, saya sudah lelap.