Tongkat

Apa yang terlintas begitu mendengar kata Madura?

Pantai nan indah, tambak garam, sate, karapan sapi …dan tentu saja ramuan Madura! Yang terakhir itu adalah gara-gara kawan ibu saya yang baru saja kembali dari berlibur di pulau cantik itu.

Beliau mengoleh-olehi saya sebuah tongkat Madura. Katanya untuk menyenangkan suami. Melihat saya tak segera paham, kawan ibu itu menjelaskan begini; tongkat Madura adalah ramuan herbal yang dipampatkan sebesar cerutu, dipakai dengan memasukannya ke vagina sesaat sebelum bersanggama. Gunanya untuk menyerap cairan di sana sehingga vagina terasa kesat. Kalau kesat, pasti suami bahagia, katanya.

Mendadak saya jadi sebal sama kawan ibu itu. 😦

Pertama, bagaimana dia tahu suami saya tidak bahagia? Mereka kan belum pernah ketemu. Kedua, saya skeptis sebab – katakanlah saya sok logis – tapi bukankah lubrikasi pada vagina sangat diperlukan dalam persetubuhan? Ketiga, tanpa lubrikasi pastilah hubungan seks terasa begitu menyakitkan, lalu bagaimana saya bersenang-senang?

Kenikmatan seks lebih sulit didapat oleh perempuan sehingga dibutuhkan peralatan tambahan selain penis sungguhan. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan data sederhana yang saya kumpulkan ketika mengetik kata sex toys pada mesin pencari. Menarik bahwa separuh atau lebih piranti seks yang ditawarkan adalah beragam  vibrator untuk wanita. Sementara Viagra, krim untuk mempertahankan ereksi, pompa untuk memperbesar penis, dan boneka untuk masturbasi berada di urutan berikutnya.

Ini artinya, konsumen terbanyak situs-situs semacam itu adalah cewek. Kesimpulannya, dalam hal seks, perempuan lebih butuh bersenang-senang dibandingkan pria.

Cuma barangkali saya memang sok feminis. Buat saya tongkat madura nggak berarti apapun selain menguatkan mitos kejantanan pada simbol phallus ini.

Btw, saya masih menyimpan oleh-oleh kawan ibu saya itu. Ada yang mau?

Advertisements

Tuhan Itu Jahat

Sebab Tuhan suka menghukum umatnya.

Begitulah pesan yang saya tangkap dari segala macam sinetron (yang seharusnya) ber-genre religius. Mereka yang nggak mau mengikuti jalan Tuhan akan mati dengan mengerikan. Lebih mengerikan lagi, sebelum mati tubuhnya akan dipenuhi belatung atau tiba-tiba dipenuhi bisul bernanah berbau busuk. Tak jarang digambarkan lidahnya terjulur tanpa bisa kembali lagi atau menjadi mayat kering tanpa pernah benar-benar mati. Saya jadi bingung, apa bedanya azab Tuhan dengan guna-guna istri muda?

Hal serupa juga umum muncul pada saat bencana alam terjadi. Kalimat populer yang kerap diucapkan adalah “Tuhan sedang murka,” Buat saya kalimat itu menguatkan kesan bahwa Tuhan memang jahat banget! Lalu apa kabar dengan hal yang selalu diulang-ulang dalam doa? Yaitu bahwa Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang?

Saya cuma berharap bahwa orang-orang (kayak saya yang nilai agamanya payah) nggak malas lagi mencintai Tuhan. Sebab Dia gak jahat. Dia gak pernah mengguna-guna umatnya. Dia juga gak mudah murka seperti perkiraan kita. Justru sebaliknya, Dia selalu membantu umatNya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Seperti Darth Vader, kita cenderung berpaling ke sisi gelap yang memang terlihat lebih menarik.

Dan bukankah hidup jadi lebih mudah kalau kita mengerjakan segala sesuatu karena mencintaiNya ketimbang karena membenciNya atas segala hukuman versi sinetron itu?

Doa Bunda

Apakah seorang ibu pasti mendoakan hal-hal baik untuk anaknya?

Saya senang jalan pagi di hari Sabtu atau Minggu.

Rute yang saya ambil biasanya kampung-kampung seputar kompleks perumahan saya. Melewati jalan-jalan sepi nan tentram, seringnya saya bertemu dengan bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi. Mereka mengobrol sambil menghabiskan rokok klobot, terkadang juga sambil main catur. Saya suka mengamati suasana begitu.

Pagi itu, warung kopi sepi. Hanya ada dua lelaki sedang menyeruput kopi ditemani singkong goreng. Ibu pemilik warung duduk di bangku menunggui anaknya yang sedang bermain dengan beberapa bocah lain di depan warung. Saya menangguk dan tersenyum, mencoba menyapanya, namun rupanya ia sedang memperhatikan sesuatu hingga tak melihat sapaan saya.

Tiba-tiba, ibu itu berujar, “Ampun curang, Nduk, Ora ilok.” ~ Jangan curang, Nak. Itu tidak baik.

Saya tak tahu permainan apa yang bocah-bocah itu mainkan, atau bagaimana anaknya bisa sampai bermain curang. Ucapan ibu itu lebih menarik perhatian saya, dan terus terngiang-ngiang dalam telinga saat saya sampai di rumah.

Tak ada seorang ibu pun yang ingin anaknya berlaku curang, bahkan dalam permainan sepele sekalipun. Ibu pemilik warung, seperti ibu-ibu lainnya, sudah pasti mendoakan kebaikan bagi buah hatinya. Entah dalam shalat atau sembahyang, seorang ibu pasti menitipkan nama anaknya pada malaikat. Meminta pesuruh Tuhan untuk menyampaikan harapan baik agar anaknya menjadi orang beriman, berbudi luhur, dan berguna bagi sesama.

Belum pernah saya dengar ada ibu yang mendoakan hal buruk ~ kecuali ibunya Malin Kundang yang memohon anak durhakanya menjadi batu.

Tetapi mungkinkah semua doa ibu tersebut mulia?  Lantas bagaimana dengan para koruptor? Apa iya doa ibunya yang salah sehingga mereka tega mencuri duit rakyat? Bukankah konon di neraka kelak koruptor akan makan bangkai?

Malamnya, saya menceritakan pemikiran itu kepada suami. Seperti biasa, ia akan menjawab kegelisahan saya dengan kalem. “Sudahlah, biarin aja. Neraka kan juga perlu bahan bakar supaya tetap abadi.” katanya sambil mengisik-isik kepala saya.

Saya ingin mendebat, tapi isik-isikannya membuat saya ngantuk. Sesaat kemudian, saya sudah lelap.

Imagology & Flawless White

Terpengaruh iklan Pond’s Flawless White yang bersambung-sambung itu, teman saya terobsesi menjadi putih dalam tujuh hari. Setelah lewat dua minggu, dengan bangga, dia memamerkan kulitnya yang menurutnya (dan tidak menurut saya) lebih putih daripada sebelumnya.

Dan begitulah hingga detik ini putih adalah ideal kecantikan. Meski banyak pernyataan yg menentangnya, konsep tersebut terlalu lekat di otak. Intelektualitas nggak bisa menundukkan akumulasi selera, yang barangkali sudah menjadi hegemoni. Sementara begitu banyak nasihat moral dari beragam majalah wanita seperti, “Cintailah dirimu apa adanya,” namun pada saat yang sama ideal kecantikan dalam kulit putih tetap digencarkan.

Dalam novel terkeren sepanjang masa “Immortality,” penulis Milan Kundera mengenalkan istilah imagology. Kata ini merefleksikan sesuatu yg sangat kuat sehingga dapat menciptakan sistem mengenai apa yang ideal dan apa yang tidak berdasarkan riset dan startegi.

Kata ini mencakup beragam bidang yang sebenarnya sama saja. Iklan, kampanye politik, desain mobil, alat-alat olahraga, model rambut, industri fashion, dll. Yang terakhir bahkan mampu membuat jutaan orang mengikuti desain pakaian musim berikutnya, tanpa pernah bertanya mengapa motif pakaian musim semi YSL tahun ini adalah polkadot atau rok musim panas Versace thn lalu adalah peasant skirt.

Imagology membuat kecantikan sah saja diterjemahkan sebagai tinggi, putih, dan indo. Dan penerjemahan ini hanya berlaku di Asia. Produk pemutih dari berbagai merek keluaran Amerika & Eropa (Nivea, misalnya) tidak bisa ditemukan di pasar negara-negara pemroduksinya. Sebaliknya Nivea menawarkan krim tanning yang nggak akan laku di negara kita. Ini karena imagology membikin tren bahwa cantik ideal identik dengan eksotisme alam tropis dan sinar matahari berlimpah. Sesuatu yang amat mewah untuk didapat di negara empat musim.

Balik lagi ke konsep flawless white. Saya nggak tahu apakah menjadi putih mulus dalam tujuh hari itu memang nyata, atau hanya kebohongan yang diiklankan? Yang jelas, pesan dalam iklan itu seperti menegaskan bahwa jika kamu tidak putih, maka pacarmu akan berkencan dengan cewek lain.

Eh tapi, ngomong-ngomong, bukankah pacar juga mencampakkan kalau kamu … nggg, keputihan? 🙂

Perayaan

Kalau seabad kemunculan organisasi Boedi Oetomo dirayakan dengan sebuah perhelatan besar, saya kira itu pilihan. Perayaan yang dihadiri 30.000 pendukung acara dan disiarkan di seluruh stasiun televisi nasional, barangkali tepat bagi kondisi bangsa yang sedang perlu hiburan di tengah-tengah kesulitan ekonomi.

Toh perayaan begini tidak jahat. Ia hanya memberi alasan untuk sebuah festival hedonisme yang tak punya relevansi dengan pemikiran-pemikiran Dr. Soetomo dan kawan-kawannya. Perlu dicatat bahwa tidak semua negara mempunyai perayaan semacam begini. Meski perlu dicatat juga bahwa nggak semua yang merayakan Hari Kebangkitan Nasional tahu apa yang sedang dirayakan. Nggak percaya? Tanya saja anak tetangga saya (dia lulusan Amrik) yang yakin bahwa Boedi Oetomo adalah nama pahlawan nasional.

Namun sama seperti anak tetangga itu, saya juga datang dari generasi puluhan tahun setelah Boedi Oetomo berdiri. Saya besar di era yang gak pernah merasakan adanya usaha apapun untuk menjunjung kesederhaan, bahkan di tingkat simbol sekalipun. Saya datang dari zaman perayaan jor-joran, bahkan dalam masa krisis ekonomi. Tema perhelatan kolosal berbiaya ratusan juta sebagai titik balik kebangkitan bangsa dari keterpurukan, mungkin adalah parodi jika hingga selesainya acara, ia tetap menjadi tema.

Tapi sekali lagi; nggak semua negara punya perayaan macam ini. Seorang karib berkebangsaan Jerman yang tinggal di Jakarta begitu terharu dengan kehebohan Hari Kebangkitan Nasional kali ini. Dia juga menitikkan air mata setiap kali menonton perayaan tujuh belasan di istana merdeka, bahkan saat Jerman kalah di semi final Uber Cup (lho?). Katanya, di negaranya, bersikap nasionalis dianggap sakit jiwa – mengingat sejarah Hitler dgn Nazi-nya, nasionalisme adalah olok-olok. Beda dengan di sini, dia merasakan generasi yang gak pernah berjuang pun tetap bersemangat dan nasionalis.

Dan sarkasme sayalah yang membuat perasaan terharunya menjadi lelucon pribadi, sebab saya kesulitan membedakan semangat nasionalisme dan semangat hedonisme dalam perayaan macam itu. Tapi begitulah euforia. Dan perayaaan-perayaan begitu serupa ekstasi yang membuat kita lupa bahwa ada yang sakit dalam struktur masyarakat negeri ini.