Bukan Traveler

Setiap orang suka traveling, kan?

Saya sudah berkenalan dengan konsep backpacking, dan juga para backpacker dunia jauh sebelum Trinity mempopulerkan kata itu dalam buku-bukunya. Sebagai pengajar BIPA, banyak siswa saya yang sudah bepergian ke berbagai pelosok dunia sebagai backpacker. Bagi muda-mudi di banyak negara maju, pernah traveling ke banyak negara, apalagi developing countries, bisa mereka masukkan ke dalam portfolio dan akan dipertimbangkan ketika melamar pekerjaan atau mengajukan beasiswa.

Hingga sekarang pun, saya dikelilingi orang-orang yang gemar dan sudah traveling ke mana-mana. Sahabat saya, Bejan, misalnya sudah bepergian ke Jepang, Thailand, Iran, Afganistan, Turki, dan Peru. Dia tinggal selama tujuh tahun di Ottawa, Kanada, lantas bekerja sebagai Chef di sebuah resor di Raja Ampat, dan setahun belakangan, dia tengah berada di Perancis untuk merambah karier sebagai wine tester. Oya, dia juga pernah mengunjungi ujung Utara dunia (saya lupa nama pulaunya) hanya untuk melihat langsung Aurora Borealis.

Lain lagi kisah si cantik Misha Johanna, yang sudah menjejakkan kaki di 31 negara di dunia, dan sekarang sedang menikmati suasana musim panas di Lithuania. Mungkin kamu pernah baca tulisan-tulisan blog Pumpkin Furball? Nah, itu kawan saya semasa kerja dulu. Atau mungkin kamu pernah baca blog Anggia Bonyta? Dia seorang kawan yang memiliki prinsip bahwa traveling itu seharusnya sekali-sekali saja. Sekali di bulan Februari, sekali di bulan Maret, sekali di bulan April, dan seterusnya 😀

Sebetulnya, banyak banget kawan-kawan yang menjadikan traveling sebagai bagian dari tujuan hidup, tapi saya akan ceritakan tentang mereka kali lain. sebab kali ini saya ingin menceritakan kenapa, meski dikelilingi para pecinta traveling, saya nggak tertarik dengan kegiatan satu ini. Lebih tepatnya, nggak pernah punya hasrat untuk traveling.

Saya tahu, saya bukan satu-satunya non-penggemar traveling. Ada orang-orang yang memang tak mampu secara ekonomi untuk bepergian, atau malah karena takut naik pesawat. Saya juga termasuk yang penakut sih, tapi ini bukan alasan utama. Saya hanya tak tertarik dengan traveling. Mungkin suatu hari saya akan melakukannya, mungkin juga tidak. Saya punya angan mengunjungi ke Santorini, Tibet, Barcelona dan Jaipur suatu hari, tapi saya tak terlalu peduli jika tak pernah terlaksana. I just don’t care, and that’s should be okay.

Tapi, kamu harus lihat bagaimana tatapan orang-orang jika saya mengatakan bahwa saya tak tertarik pada traveling. Mereka memandang saya seolah-olah saya neadetral yang tak pernah meninggalkan gua, lalu membatin, “Pasti membosankan sekali hidup si Astrid ini.”  😀

Hmmm, gimana ya. Saya sudah mengelilingi banyak kota di Sulawesi Selatan, tinggal beberapa hari di desa kecil tanpa listrik dan fasilitas MCK di tengah pengunungan di Tana Toraja. Saya puluhan kali mengunjungi Bali dan Lombok, baik untuk main, mengunjungi keluarga, maupun berwisata. Saya sudah menjelajah Palembang dan Lampung karena setengah keluarga besar saya berasal dari sana. Tentu saja, beberapa kota di pulau Jawa juga pernah. Barangkali, yang belum pernah saya kunjungi hanya pulau Kalimantan, Maluku dan Papua. Dari semua itu, saya belajar satu hal; saya tak pernah merasa nyaman berlama-lama di jalanan.

Beberapa perjalanan yang saya lakukan membutuhkan waktu lama, kadang harus berganti-ganti kendaraan. Pernah harus ganti tiga bus lalu pindah ke kapal ferry dan kemudian naik taksi, kesasar di daerah yang orang-orangnya bicara dengan dialek khas sehingga saya kesulitan memahami ucapan mereka. Awalnya, situasi ini menyenangkan dan menantang, lama kelamaan jadi melelahkan. Ujung-ujungnya, pilihan jatuh pada pesawat, kereta api atau bus eskekutif yang tiketnya lebih mahal. Belum lagi, saya termasuk orang yang tak tahan lapar. Tak cukup makan selama perjalanan membuat saya grumpy dan mengeluh terus. Menyebalkan ya.

Selain tak suka menghabiskan waktu lama di perjalanan, saya juga tak suka berada jauh dari keluarga. Bahkan jika pergi dengan suami dan anak-anakpun, saya mudah kangen pada ibu, adik-adik dan keponakan, sepupu, mertua, para ipar. Buat saya, menghabiskan waktu bersama keluarga lebih bermakna ketimbang mencoba berkenalan dengan orang asing di tempat yang tak saya kenal. Barangkali, pada dasarnya saya memang introvert yang malas berada dalam kerumunan orang-orang baru. Selain itu, berada di tempat asing, mau tak mau mengharuskan saya menceritakan tentang diri sendiri. Sesuatu yang saya coba hindari, dan saya juga tak suka ditanya-tanya soal pribadi. Padahal, di banyak tempat hal ini menunjukkan sopan santun dan keramah tamahan. Sayanya aja yang kurang cocok.

Jadi, kalau waktunya tiba, saya memilih untuk liburan di tempat yang nyaman, dan tidak ada orang yang tanya-tanya. Dana liburan biasanya saya gunakan untuk menginap di hotel bagus yang berjarak paling jauh dua tiga jam naik mobil dari rumah. Itu menyenangkan buat saya, dan juga keluarga.

Ada teman yang berprinsip bahwa uang bisa dicari lagi, tapi waktu tidak bisa terulang. Mereka bekerja keras dan menabung untuk traveling, dan menjadikannya kemewahan. Hadiah dari kerja keras mereka, dan saya sangat menghargai prinsip itu. Hanya saja, kemewahan buat saya memiliki arti berbeda. Hasil kerja selama beberapa bulan akan menjadi kemewahan ketika dimanifestasi ke dalam rumah. Iya, saya suka mendekor rumah, dan berinvestasi untuk menjadikannya indah dan super nyaman.

Orang rumahan. Barangkali itu alasan kenapa saya tak tertarik traveling. Buat saya, berada di rumah (kalau perlu tak usah keluar selama berhari-hari) menjadi sebuah kemewahan, sesuatu yang saya inginkan di akhir hari yang melelahkan, duduk di sofa nyaman, membaca buku, mendengarkan musik, menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga, atau bahkan tidak melakukan apapun sepanjang hari.

Bagaimana dengan wawasan luas yang hanya bisa didapatkan ketika kita traveling? Well, saya nggak peduli dengan hal itu. Saya masih yakin bahwa wawasan dan perspektif saya cukup luas, pikiran saya juga cukup terbuka. Lagipula, toh saya tetap bisa menikmati foto-foto traveling menakjubkan dari perjalanan teman-teman.

Tapi kan, nggak sama rasanya? Well, I don’t care about that either. Traveling selalu berada di urutan terbawah daftar prioritas hidup saya. Dan saya tidak mengatakan bahwa traveling itu kegiatan sia-sia. Traveling itu bagus … untuk orang lain.

Advertisements

Tuhan Itu Jahat

Sebab Tuhan suka menghukum umatnya.

Begitulah pesan yang saya tangkap dari segala macam sinetron (yang seharusnya) ber-genre religius. Mereka yang nggak mau mengikuti jalan Tuhan akan mati dengan mengerikan. Lebih mengerikan lagi, sebelum mati tubuhnya akan dipenuhi belatung atau tiba-tiba dipenuhi bisul bernanah berbau busuk. Tak jarang digambarkan lidahnya terjulur tanpa bisa kembali lagi atau menjadi mayat kering tanpa pernah benar-benar mati. Saya jadi bingung, apa bedanya azab Tuhan dengan guna-guna istri muda?

Hal serupa juga umum muncul pada saat bencana alam terjadi. Kalimat populer yang kerap diucapkan adalah “Tuhan sedang murka,” Buat saya kalimat itu menguatkan kesan bahwa Tuhan memang jahat banget! Lalu apa kabar dengan hal yang selalu diulang-ulang dalam doa? Yaitu bahwa Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang?

Saya cuma berharap bahwa orang-orang (kayak saya yang nilai agamanya payah) nggak malas lagi mencintai Tuhan. Sebab Dia gak jahat. Dia gak pernah mengguna-guna umatnya. Dia juga gak mudah murka seperti perkiraan kita. Justru sebaliknya, Dia selalu membantu umatNya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Seperti Darth Vader, kita cenderung berpaling ke sisi gelap yang memang terlihat lebih menarik.

Dan bukankah hidup jadi lebih mudah kalau kita mengerjakan segala sesuatu karena mencintaiNya ketimbang karena membenciNya atas segala hukuman versi sinetron itu?