3G  (G-string, G-male dan G-spot)

Mungkin saya ketinggalan jaman, tapi beneran deh, saya baru tau kalau ada g-string buat cowok. Waktu jalan-jalan di sebuah mall, nggak sengaja saya lihat manekin setengah badan ke bawah yang sedang dipakaikan g-string.

Awalnya saya pikir itu g-string untuk cewek yang sama sekali gak seksi sebelum akhirnya saya sadar manekin itu ada di tengah tumpukan underpants cowok yang lagi diskon. Melihat pantat mulus sang manekin yang dihiasi segaris tali tipis di selangkangan, mau gak mau saya membayangkan lycra hitam itu dipakai oleh teman-teman cowok saya. Eeeuuh!

Saya dulu pernah membeli g-string, hanya karena penasaran sebab model di majalah jadi kelihatan begitu seksi dengannya. Yang saya dapat cuma kecewa karena saya membelinya tanpa mempertimbangkan bentuk perut dan bokong saya yang beda jauh dengan sang model. Selain itu rasa risih di selangkangan membuat cara jalan dan duduk saya jadi aneh. Jadi, g-string itu hanya saya pakai untuk kesempatan tertentu saja. You know what I mean! 😉

Anyway! G-string buat cowok itu bener-bener bikin saya penasaran. Saya pingin tahu apakah segaris lycra tipis di selangkangan itu akan mengganggu  atau malah merangsang si pemakai? Sebab g-spot pria berada di sekitar daerah itu.

Menurut buku “Total Sex: Complete Guide to Everything Men Need to Know and Want to Know About Sex,” g-spot pria atau sering disebut g-male terletak pada kelenjar prostatnya. Menemukannya sebenarnya cukup ribet dan kurang higenis, karena hanya dapat dilakukan dengan memasukkan jari tangan ke sekitar lubang anus untuk menemukan titik berukuran sebiji kenari. Namun sekali ditemukan, titik tersebut akan menimbulkan efek rangsang yang begitu hebat.

Saya jadi inget adegan dalam film American Pie 2. Seorang dokter memeriksa bagian anal pasien dengan cara seperti di atas. Yang terjadi berikutnya adalah pasien yang awalnya ketakutan divonis kanker prostat malah menjadi begitu terangsang ~ dan sesudahnya tak mampu lagi orgasme dengan cara biasa.

Advertisements

Café Si Man

Itu bukan kafe baru di Jogja. In fact, it’s not a café at all!

Saya lagi ngomongin warung wedangannya pak Man yang dinamai begitu oleh pelanggannya. Letaknya di sebelah utara tembok stasiun Tugu. Andalan kafe ini adalah seduhan teh kentalnya. Tentu saja ada jualan lainnya, nasi sambel, nasi oseng-oseng bakmi, gorengan, dll

Buat teman-teman yang pernah menghabiskan masa kuliah di Jogja, pasti angkringan macam punya pak Man menjadi suatu nostalgia. Apalagi lesehan-lesehan wedang yang terletak di alun-alun Pakualaman. Wah, nggak mudah dilupakan.

Tempatnya yang temaram romantis bisa buat jajan roti, jadah atau pisang bakar sambil pacaran, atau ngobrol-ngobrol asyik sampai menjelang pagi tanpa takut diusir. Sajian nasi kucing dengan kepala atau ceker ayam, tahu-tempe bacem, sate usus, sate telur puyuh, ditemani wedang teh gula batu/pasir, teh poci, wedang jahe, STMJ, wedang tape dll. Suasana begini membuat orang bisa melupakan masalah-masalah hidupnya sejenak.

Kesederhanaan tempat-tempat seperti ini membuat seseorang enggak perlu minder sebab di sini semua strata sosial diterima dengan baik. Begitu masuk warung, enggak ada bedanya lagi apakah dia pegawai, mahasiswa, tukang becak ataupun buruh upahan. Lebih menarik lagi, bahan obrolan di sana bisa apa saja. Mulai dari angka-angka togel, masalah ekonomi pribadi maupun negara, stabilitas politik, sampai kebodohan-kebodohan pemerintah Amerika Serikat.

Minum teh panas manis kental di keremangan malam…

“..terhanyut akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Jogja..” ~ KLa Project

Imagology & Flawless White

Terpengaruh iklan Pond’s Flawless White yang bersambung-sambung itu, teman saya terobsesi menjadi putih dalam tujuh hari. Setelah lewat dua minggu, dengan bangga, dia memamerkan kulitnya yang menurutnya (dan tidak menurut saya) lebih putih daripada sebelumnya.

Dan begitulah hingga detik ini putih adalah ideal kecantikan. Meski banyak pernyataan yg menentangnya, konsep tersebut terlalu lekat di otak. Intelektualitas nggak bisa menundukkan akumulasi selera, yang barangkali sudah menjadi hegemoni. Sementara begitu banyak nasihat moral dari beragam majalah wanita seperti, “Cintailah dirimu apa adanya,” namun pada saat yang sama ideal kecantikan dalam kulit putih tetap digencarkan.

Dalam novel terkeren sepanjang masa “Immortality,” penulis Milan Kundera mengenalkan istilah imagology. Kata ini merefleksikan sesuatu yg sangat kuat sehingga dapat menciptakan sistem mengenai apa yang ideal dan apa yang tidak berdasarkan riset dan startegi.

Kata ini mencakup beragam bidang yang sebenarnya sama saja. Iklan, kampanye politik, desain mobil, alat-alat olahraga, model rambut, industri fashion, dll. Yang terakhir bahkan mampu membuat jutaan orang mengikuti desain pakaian musim berikutnya, tanpa pernah bertanya mengapa motif pakaian musim semi YSL tahun ini adalah polkadot atau rok musim panas Versace thn lalu adalah peasant skirt.

Imagology membuat kecantikan sah saja diterjemahkan sebagai tinggi, putih, dan indo. Dan penerjemahan ini hanya berlaku di Asia. Produk pemutih dari berbagai merek keluaran Amerika & Eropa (Nivea, misalnya) tidak bisa ditemukan di pasar negara-negara pemroduksinya. Sebaliknya Nivea menawarkan krim tanning yang nggak akan laku di negara kita. Ini karena imagology membikin tren bahwa cantik ideal identik dengan eksotisme alam tropis dan sinar matahari berlimpah. Sesuatu yang amat mewah untuk didapat di negara empat musim.

Balik lagi ke konsep flawless white. Saya nggak tahu apakah menjadi putih mulus dalam tujuh hari itu memang nyata, atau hanya kebohongan yang diiklankan? Yang jelas, pesan dalam iklan itu seperti menegaskan bahwa jika kamu tidak putih, maka pacarmu akan berkencan dengan cewek lain.

Eh tapi, ngomong-ngomong, bukankah pacar juga mencampakkan kalau kamu … nggg, keputihan? 🙂

Perayaan

Kalau seabad kemunculan organisasi Boedi Oetomo dirayakan dengan sebuah perhelatan besar, saya kira itu pilihan. Perayaan yang dihadiri 30.000 pendukung acara dan disiarkan di seluruh stasiun televisi nasional, barangkali tepat bagi kondisi bangsa yang sedang perlu hiburan di tengah-tengah kesulitan ekonomi.

Toh perayaan begini tidak jahat. Ia hanya memberi alasan untuk sebuah festival hedonisme yang tak punya relevansi dengan pemikiran-pemikiran Dr. Soetomo dan kawan-kawannya. Perlu dicatat bahwa tidak semua negara mempunyai perayaan semacam begini. Meski perlu dicatat juga bahwa nggak semua yang merayakan Hari Kebangkitan Nasional tahu apa yang sedang dirayakan. Nggak percaya? Tanya saja anak tetangga saya (dia lulusan Amrik) yang yakin bahwa Boedi Oetomo adalah nama pahlawan nasional.

Namun sama seperti anak tetangga itu, saya juga datang dari generasi puluhan tahun setelah Boedi Oetomo berdiri. Saya besar di era yang gak pernah merasakan adanya usaha apapun untuk menjunjung kesederhaan, bahkan di tingkat simbol sekalipun. Saya datang dari zaman perayaan jor-joran, bahkan dalam masa krisis ekonomi. Tema perhelatan kolosal berbiaya ratusan juta sebagai titik balik kebangkitan bangsa dari keterpurukan, mungkin adalah parodi jika hingga selesainya acara, ia tetap menjadi tema.

Tapi sekali lagi; nggak semua negara punya perayaan macam ini. Seorang karib berkebangsaan Jerman yang tinggal di Jakarta begitu terharu dengan kehebohan Hari Kebangkitan Nasional kali ini. Dia juga menitikkan air mata setiap kali menonton perayaan tujuh belasan di istana merdeka, bahkan saat Jerman kalah di semi final Uber Cup (lho?). Katanya, di negaranya, bersikap nasionalis dianggap sakit jiwa – mengingat sejarah Hitler dgn Nazi-nya, nasionalisme adalah olok-olok. Beda dengan di sini, dia merasakan generasi yang gak pernah berjuang pun tetap bersemangat dan nasionalis.

Dan sarkasme sayalah yang membuat perasaan terharunya menjadi lelucon pribadi, sebab saya kesulitan membedakan semangat nasionalisme dan semangat hedonisme dalam perayaan macam itu. Tapi begitulah euforia. Dan perayaaan-perayaan begitu serupa ekstasi yang membuat kita lupa bahwa ada yang sakit dalam struktur masyarakat negeri ini.

Trans Jogja

Akhirnya Jogja punya sistem transportasi bus cepat, murah dan ber-AC.

Bus bernama Trans Jogja ini mulai beroperasi beberapa hari lalu. Badan bus bercat hijau  dan kuning itu memang nggak sebesar Trans Jakarta, mungkin lebih mirip bus Patas tapi lumayanlah, sebab Jogja tak punya Patas. Bus bertingkat pun nggak ada. Bukan apa-apa tapi kabel-kabel listrik di kota ini terentang begitu rendah sehingga mustahil dilewati bus tingkat.

Sebenarnya saya belum tahu persis rute bus Trans Jogja namun kelihatannya hanya akan mengakomodasi jalan-jalan utama saja, sebab halte-haltenya tidak berada di jalan-jalan sekunder.

Yang bikin prihatin adalah bahwa sebelum premiere penggunaannya, halte-halte tersebut sudah dicoreti grafitti, dirusak jendela nakonya, bahkan konon sudah dikencingi. Oh, mungkin para pelakunya tak bermaksud vandal. Mereka hanya tidak busa membedakan halte bus dengan WC umum, dan mengira jendela nako itu milik bersama.

Susahnya, yang nggak melakukanlah yang melihat hasil akhirnya, dan lantas menjadi geram. Seandainya bisa bertemu pelakunya, mungkin ingin meneriaki, “Siapa yang memberi kalian hak merusak halte ini?”

Tapi, saya kira pertanyaan formalis macam itu bakal salah kaprah untuk Indonesia sebab mengandaikan negara kita memiliki pusat hukum yang diakui seluruh warga negara dan wilayahnya. Nyatanya kekuasaan ada di mana-mana, jadi pertanyaan mengapa mencoreti dan mengencingi halte TransJogja akan dibalas dengan teriakan, “Emangnya ini halte mbahmu? Suka-suka dong!”.

Maka tak akan ada yang berani bertanya, sebab sudah takut duluan. Dan orang-orang seperti ini, salah satunya adalah saya, memilih untuk merutuk, dan membiarkan hukum paling primitif, yakni hukum rimba, berlaku.

Balik lagi ke Trans Jogja. Saya memang lebih setia sama motor bebek, dan hanya bermobil sesekali saat bepergian dengan keluarga. Saya jarang naik bus. Bukan masalah copet, sumpek, bau keringat atau lainnya, tapi dengan tubuh setinggi lebih dari 170cm, kepala saya cukup sering terbentur langit-langit bus jika harus berdiri. Kalaupun mendapat tempat duduk, saya bermasalah memasukkan kaki panjang saya di antara tempat duduk.

Tapi, saya kepingin mencoba naik Trans Jogja itu suatu hari.

Suatu Hari di Pasar Legi Kotagede

Pada hari-hari pasaran legi, pasar itu paling ramai dikunjungi orang. Pasar ini ada di desa Tegalgendu tepat di seberang sungai Gajah Wong.

(Van Bevervoorde, 1905)

 

Sampai hari ini pasar Kotagede masih ramai dikunjungi setiap hari, meski puncak keramaian selalu pada hari-hari pasaran Legi*). Situasi tak banyak berubah, tetap seperti awal berdirinya pada abad 16.

Pasar Kotagede adalah pasar biasa. Hanya saja kalau kamu pergi ke sana pada hari pasaran Legi, pagi hari antara jam tujuh sampai sebelas, kamu mungkin mengira sedang ada festival di sana. Pasar Legi membawa kegembiraan tersendiri buat masyarakat Kotagede. Mereka datang untuk belanja, rekreasi, cuci mata, atau sekedar ketemu teman-teman.

Yang unik, pada hari itu pasar didominasi lelaki, baik pedagang maupun pembelinya. Pedagangnya pun datang dari mana-mana dengan segala macam barang seperti alat pertanian, bibit tanaman, unggas, dan ikan. Bahan-bahan pangan itu bersaing dengan pakaian, aksesoris, keris, batu akik, jimat, obat kuat, mainan, vcd bajakan, sepatu, sendal, topi, poster, kalender, madu, hingga mebel.

Begitu banyak hal unik yang belum pernah saya lihat sebelumnya ada di sana.

Seorang penjual obat berusia kira-kira tujuh puluhan menawarkan rupa-rupa obat, daging dan abon ular, bahkan ular hidup. Perempuan muda yang menemaninya (konon adalah istrinya) digunakan sebagai promosi. Katanya, berkat rajin minum obat kuat ramuan sendiri, dia masih sanggup memuaskan istri belianya. Diiringi backsound musik campur sari super berisik, dia juga buka praktek cabut gigi pakai tang – dijamin gak bakal sakit!

Tak jauh dari sana, ada yang menjual pembersih gigi. Cairan berwarna bening dalam botol plastik itu musti dioleskan dan digosok-digosok sebentar lalu … Voila! gigi berubah menjadi putih bersih. Kata yang pernah mencoba, cairan itu asam sekali sehingga membuat gigi linu. selain itu, gigi putih  hanya bertahan sekitar dua minggu sebelum berubah lagi menjadi coklat kehitaman. Saya ngilu sendiri membayangkan email gigi yang rusak akibat air keras di dalam ramuan itu.

Tapi, perhatian saya segera beralih pada dagangan di dekat situ,  yaitu tangkur**) buaya dari Papua. Obat kejantanan, katanya. Penjualnya memang orang Papua asli. Dia begitu heboh, bertelanjang dada dengan kostum rumbai-rumbai plus aksesoris tulang belulang.

Di seberangnya, ada penjual peluit kondom. Peluit ini memang berbahan baku lateks kondom yang digunting kecil-kecil, dijepit seng tipis, dan dilapisi plastik merah. Diletakan di lidah lalu ditiup; teeeettt! Dan saya keburu jijik membayangkan apakah kondom yang digunakan sebagai bahan baku itu baru atau bekas pakai.

Apapun, jalan-jalan begini layak kamu coba kalau pergi ke Kotagede. It’s really fun! Cuma sebaiknya kamu punya teman atau pemandu yang sudah sering ke pasar ini.

—-

* Legi; Dalam kalender Jawa, hanya ada lima hari dalam seminggu, dan hari-hari tersebut nggak dinamakan Senin, Selasa, dst melainkan Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing.

** Tangkur = testikel. Testikel buaya dipercaya mempunyai efek aphrodisiak; membikin potensi seks meningkat.